Saturday, 30 August 2014

PENGARUH TERAPI PERILAKU KOGNITIF (COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY) TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU PASIEN MENARIK DIRI DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSINUSA TENGGARA BARAT

RINGKASAN PROPOSAL

PENGARUH TERAPI PERILAKU KOGNITIF (COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY) TERHADAP PERUBAHAN  PERILAKU  PASIEN  MENARIK  DIRI  DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSINUSA TENGGARA BARAT

JUSNI

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM
TAHUN 2012/2013




LATAR BELAKANG
Sehat menurut WHO dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Sedangkan dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2007 disebutkan bahwa sekitar 2,5 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan kejiwaan, dari tingkat ringan hingga berat. Sedangkan data yang dikeluarkan Departemen Kesehatan pada tahun 2008 menyebutkan jumlah penderita gangguan jiwa berat sebesar 2,6 juta jiwa, yang diambil dari data Rumah Sakit Jiwa (RSJ) se-Indonesia (Depkes RI, 2008).

Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, prilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosional (Videbeck, 2008).

Indikator sehat jiwa meliputi sikap yang positif terhadap diri sendiri, tumbuh, berkembang, memiliki aktualisasi diri, keutuhan, kebebasan diri, memiliki persepsi sesuai kenyataan dan kecakapan dalam beradaptasi dengan lingkungan (Stuart & Laraia, 1998 dalam Yosep, 2007).

Dari segi kehidupan sosial kultural, interaksi sosial adalah merupakan hal yang utama dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai dampak adanya kerusakan interaksi sosial : menarik diri akan menjadi suatu masalah besar dalam fenomena kehidupan, yaitu terganggunya komunikasi yang merupakan suatu elemen penting dalam mengadakan hubungan dengan orang lain atau lingkungan disekitarnya (Carpenito, 1997).

Ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan jiwa. Satu diantaranya adalah isolasi sosial, supaya dapat mewujudkan jiwa yang sehat, maka perlu adanya peningkatan jiwa melalui pendekatan secara promotif, preventif dan rehabilitatif agar individu dapat senantiasa mempertahankan kelangsungan hidup terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun pada lingkungannya (Widdyasih 2008).

Karakteristik pasien yang mengalami gangguan dalam berhubungan dengan orang lain dapat dijumpai karakteristik berupa ketidaknyamanan dalam interaksi sosial, ketidakmampuan untuk menerima pendapat orang lain, gangguan interaksi dengan teman-teman dekat, keluarga, dan orang-orang terdekat lainnya. Gangguan ini menyebabkan terjadinya perilaku manipulatif pada individu yakni perilaku agresif atau melawan atau menentang terhadap orang lain yang menghalangi keinginannya atau dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Jika perilaku manipulatif tidak teratasi maka akan terjadi perilaku menarik diri yaitu usaha untuk menghindari interaksi dengan orang lain dan kemudian menghindari berhubungan sebagai suatu pertahanan terhadap ansietas yang berhubungan sebagai suatu stresor atau ancaman (Tucker, dkk. 1998).

Terapi modalitas merupakan suatu pendekatan penanganan klien gangguan jiwa yang bervariasi yang bertujuan mengubah prilaku klien gangguan jiwa dari prilaku maladaptif menjadi prilaku yang adaptif. Terapi modalitas sebagai terapi rehabilitasi  yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan untuk ekspresi diri, meningkatkan kemampuan untuk berinteraksi, meningkatkan keterampilan sosial,  meningkatkan pola penyelesaian masalah. Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) merupakan bagian dari terapi modalitas yaitu salah satu bentuk konseling yang bertujuan membantu klien agar dapat menjadi lebih sehat, memperoleh pengalaman yang memuaskan, dan dapat memenuhi gaya hidup tertentu, dengan cara memodifikasi pola pikir dan perilaku tertentu. Pendekatan kognitif berusaha memfokuskan untuk menempatkan suatu pikiran, keyakinan, atau bentuk pembicaraan diri (self talk) terhadap orang lain.

Berdasarkan data tahun 2010 dari bulan Juli sampai bulan Desember diRSJP NTB terdapat 532 pasien dengan gangguan jiwa. Masalah gangguan jiwa terbanyak yang dirawat RSJP NTB yaitu skizofrenia dengan jumlah 413, sedangkan tahun 2011 dari bulan  Januari sampai Februari terdapat 161 pasien gangguan jiwa dengan masalah gangguan jiwa terbanyak skizofrenia dengan jumlah 115.  

Berdasarkan hasil survey calon peneliti pada tahun 2011 didapatkan bahwa rata-rata pasien mengalami masalah seperti pada gangguan tidur, penurunan dukungan sosial, pemecahan masalah tidak adekuat (masih bersifat tertutup), prilaku merusak diri atau orang lain, tidak mampu memenuhi harapan peran, kerusakan komunikasi verbal dan lain-lain. Sehingga untuk proses penyembuhannya pasien selain harus minum obat secara teratur, pendekatan terhadap mereka sangat penting. Cognitive Behavioral Therapy ini juga belum pernah di lakukan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB.

Dari fenomena di atas, maka calon peneliti merasa tertarik untuk meneliti “Pengaruh Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) Terhadap Perubahan Perilaku Pasien Menarik Diri di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB”.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut “Apakah ada pengaruh terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) terhadap perubahan perilaku pasien menarik diri di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB “ ?

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum : Untuk mengetahui terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) terhadap perubahan perilaku pasien isolasi sosial di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB

Tujuan Khusus : (1) Mengidentifikasi perilaku pasien menarik diri sebelum diberikan terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy). (2) Mengidentifikasi perilaku pasien menarik diri sesudah diberikan terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy). (3) Menganalisa perubahan perilaku pasien menarik diri sebelum dan sesudah diberikan terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy).

SUBYEK PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Ruman Sakit Jiwa Provinsi NTB dan yang menjadi subyek penelitian adalah penderita gangguan jiwa pada klien menarik diri yang sedang menjalani rawat inap.

POPULASI
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah klien yang mengalami masalah menarik diri yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB yang berjumlah 20 orang.

SAMPEL
Dalam penelitian yang menjadi sampel adalah semua klien menarik diri yang mengalami masalah perubahan perilaku yang menjalani rawat inap di RSJ Provinsi NTB sebanyak 20 responden.

TEHNIK PENGAMBILAN SAMPEL (SAMPLING)
Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini, menggunakan total sampling yaitu tehnik pengambilan sampel pada semua populasi (total populasi

RANCANGAN PENELITIAN ATAU DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pra eksperimental dengan pendekatan one group pre-test-post-test design yaitu mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subyek. Kelompok subyek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah intervensi (Nursalam, 2008).

INTRUMEN PENELITIAN
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan observasi. Wawancara merupakan suatu metode untuk mendukung hasil dari observasi secara lisan, sedangkan observasi sebagai metode pengumpulan data dan untuk mengukur perubahan perilaku klien sebelum dan sesudah terapi perilaku kognitif  dengan berpedoman skala Guttman.

ANALISA DATA
Analisa data pada penelitian ini menggunakan Uji Statistik T-Test



FILE
KLIK  DOWNLOAD
DIBAWAH INI
COVER
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN 
DAFTAR PUSTAKA 
LAMPIRAN 


No comments:

Popular Posts