LAPORAN
PENDAHUUAN
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN VOMITUS/MUNTAH
A. Konsep Dasar
1 Defenisi
Muntah adalah pengeluaran isi
lambung secara paksa melalui mulut disertai kontraksi lambung dan abdomen. Pada
anak biasanya sulit untuk mendiskripsikan mual, mereka lebih sering
mengeluhkan sakit perut atau keluhan umum lainnya. Muntah merupakan suatu cara
di mana traktus gastrointestinal membersihkan dirinya sendiri dari isinya
ketika hampir semua bagian atas traktus gastrointestinal teriritasi secara
luas, sangat mengembang atau bahkan sangat terangsang.
Kejadian ini biasanya disertai
dengan menurunnya tonus otot lambung, kontraksi, sekresi, meningkatnya aliran
darah ke mukosa intestinal, hipersalivasi, keringat dingin, detak jantung
meningkat dan perubahan irama pernafasan. Refluks duodenogastrik dapat terjadi
selama periode nausea yang disertai peristaltik retrograde dari duodenum ke
arah antrum lambung atau secara bersamaan terjadi kontraksi antrum dan
duodenum.
Muntah timbul bila persarafan
atau otak menerima satu atau lebih pencetus seperti keracunan makanan, infeksi
pada gastrointestinal, efek samping obat, atau perjalanan. Mual biasanya dapat
timbul sebelum muntah.
2 Etiologi
Pembahasan etiologi muntah pada
bayi dan anak berdasarkan usia adalah sebagai berikuta. Usia 0 – 2 Bulan :
1) Kolitis Alergika
Alergi terhadap susu sapi atau susu formula berbahan dasar
kedelai. Biasanya diikuti dengan diare, perdarahan rektum, dan rewel
2) Kelainan anatomis dari saluran
gastrointestinal
Kelainan kongenital, termasuk stenosis atau atresia.
Manifestasinya berupa intoleransi terhadap makanan pada beberapa hari pertama
kehidupan.
3) Refluks Esofageal
Regurgitasi yang sering terjadi segera setelah pemberian susu.
Sangat sering terjadi pada neonatus; secara klinis penting bila keadaan ini
menyebabkan gagal tumbuh kembang, apneu, atau bronkospasme.
4) Peningkatan tekanan intracranial
Rewel atau letargi disertai dengan distensi abdomen, trauma
lahir dan shaken baby syndrome.
5) Malrotasi dengan volvulus
80% dari kasus ini ditemukan pada bulan pertama kehidupan,
kebanyakan disertai emesis biliaris.
6) Ileus mekonium
Inspissated meconium pada kolon distal; dapat dipikirkan
diagnosis cystic fibrosis.
7) Necrotizing Enterocolitis
Sering terjadi khususnya pada bayi prematur terutama jika
mengalami hipoksia saat lahir. Dapat disertai dengan iritabilitas atau rewel,
distensi abdomen dan hematokezia.
8) Overfeeding
Regurgitasi dari susu yang tidak dapat dicerna, wet-burps sering
pada bayi dengan kelebihan berat badan yang diberi air susu secara berlebihan.
9) Stenosis pylorus
Puncaknya pada usia 3-6 minggu kehidupan. Rasio laki-laki
banding wanita adalah 5:1 dan keadaan ini sering terjadi pada anak laki-laki
pertama. Manifestasi klinisnya secara progresif akan semakin memburuk,
proyektil, dan emesis nonbiliaris.
b. Usia 2 bulan-5 tahun.
1) Tumor otak
Pikirkan terutama jika ditemukan sakit kepala yang progresif,
muntah-muntah, ataksia, dan tanpa nyeri perut.
2) Ketoasidosis diabetikum
Dehidrasi sedang hingga berat, riwayat polidipsi, poliuri dan
polifagi.
3) Korpus alienum
Dihubungkan dengan kejadian tersedak berulang, batuk terjadi
tiba-tiba atau air liur yang menetes.
4) Gastroenteritis
Sangat sering terjadi; sering adanya riwayat kontak dengan orang
yang sakit, biasanya diikuti oleh diare dan demam.
5) Trauma kepala
Muntah sering atau progresif menandakan konkusi atau perdarahan
intrakranial.
6) Hernia inkarserasi
Onset dari menangis, anoreksia dan pembengkakan skrotum yang
terjadi tiba-tiba.
7) Intussusepsi
Puncaknya terjadi pada bulan ke 6-18 kehidupan; pasien jarang
mengalami diare atau demam dibandingkan dengan anak yang mengidap
gastroenteritis.
8) Posttusive
Seringkali, anak-anak akan muntah setelah batuk berulang atau
batuk yang dipaksakan.
9) Pielonefritis
Demam tinggi, tampak sakit, disuria atau polakisuria. Pasien
mungkin mempunyai riwayat infeksi traktus urinarius sebelumny
c. Usia 6 tahun ke atas.
a) Adhesi
Terutama setelah operasi abdominal atau peritonitis.
Terutama setelah operasi abdominal atau peritonitis.
b) Appendisitis
Manifestasi klinis dan lokasi nyeri bervariasi. Gejala sering
terjadi termasuk nyeri yang semakin meningkat, menjalar ke kuadran kanan bawah,
muntah didahului oleh nyeri, anoreksia, demam subfebril, dan konstipasi.
c) Kolesistitis
Lebih sering terjadi pada perempuan, terutama dengan penyakit
hemolitik (contohnya, anemia sel sabit). Ditandai dengan nyeri epigastrium atau
kuadran kanan atas yang terjadi secara tiba-tiba setelah makan
d) Hepatitis
Terutama disebabkan oleh infeksi virus atau akibat obat; pasien
mungkin mempunyai riwayat buang air besar berwarna seperti dempul atau urin
berwarna seperti teh pekat.
e) Inflammatory bowel disease
Berkaitan dengan diare, hematokezia, dan nyeri perut. Striktura
bisa menyebabkan terjadinya obstruksi.
f) Intoksikasi
Lebih sering terjadi pada anak yang sedang belajar berjalan dan
remaja. Dicurigai jika mempunyai riwayat depresi. Bisa juga disertai oleh
gangguan status mental.
g) Migrain
Nyeri kepala yang berat; sering terdapatnya aura sebelum
serangan seperti skotoma. Pasien mungkin mempunyai riwayat nyeri kepala kronis
atau riwayat keluarga dengan migrain.
h) Pankreatitis
Faktor resiko termasuk trauma perut bagian atas, riwayat infeksi
sebelumnya atau sedang infeksi, penggunaan kortikosteroid, alkohol dan
kolelitiasis
i) Ulkus peptikum
Pada remaja, ratio wanita:pria = 4:1. Nyeri epigastrium kronik
atau berulang, sering memburuk pada waktu malam.
3
Patofisiologi
Kemampuan untuk memuntahkan
merupakan suatu keuntungan karena memungkinkan pengeluaran toksin dari lambung.
Muntah terjadi bila terdapat rangsangan pada pusat muntah yang berasal dari,
gastrointestinal, vestibulo okular, aferen kortikal yang lebih tinggi, menuju
CVC kemudian dimulai nausea, retching, ekpulsi isi lambung.
Ada 2 regio anatomi di medulla yang mengontrol muntah, 1) chemoreceptor trigger zone (CTZ) dan 2) central vomiting centre (CVC). CTZ terletak di area postrema pada dasar ujung caudal ventrikel IV di luar blood brain barrier (sawar otak). Koordinasi pusat muntah dapat dirangsang melalui berbagai jaras. Muntah dapat terjadi karena tekanan psikologis melalui jaras yang kortek serebri dan sistem limbik menuju pusat muntah (CVC) dan jika pusat muntah terangsang melalui vestibular atau sistim vestibuloserebelum dari labirin di dalam telinga. Rangsangan bahan kimia melalui darah atau cairan otak (LCS ) akan terdeteksi oleh CTZ.
Ada 2 regio anatomi di medulla yang mengontrol muntah, 1) chemoreceptor trigger zone (CTZ) dan 2) central vomiting centre (CVC). CTZ terletak di area postrema pada dasar ujung caudal ventrikel IV di luar blood brain barrier (sawar otak). Koordinasi pusat muntah dapat dirangsang melalui berbagai jaras. Muntah dapat terjadi karena tekanan psikologis melalui jaras yang kortek serebri dan sistem limbik menuju pusat muntah (CVC) dan jika pusat muntah terangsang melalui vestibular atau sistim vestibuloserebelum dari labirin di dalam telinga. Rangsangan bahan kimia melalui darah atau cairan otak (LCS ) akan terdeteksi oleh CTZ.
Mekanisme ini menjadi target dari
banyak obat anti emetik. Nervus vagus dan visera merupakan jaras keempat yang
menstimulasi muntah melalui iritasi saluran cerna dan pengosongan lambung yang
lambat. Sekali pusat muntah terangsang maka cascade ini akan berjalan dan akan
menyebabkan timbulnya muntah. Pencegahan muntah mungkin dapat melalui mekanisme
ini. Stimulasi terhadap pusat muntah :
a. Stimulasi pada reseptor suprameduler
1) Muntah psikogenik
2) Peningkatan tekanan intrakranial (efusi
subdural atau hematoma, edema otak, atau tumor, hidrosefalus,
meningoensefalitis, sindroma Reye)
3) Valvulus (migrain, hipertensi)
4) Kejang
5) Penyakit vestibuler, ‘motion sickness’
b. Stimulasi pada ‘Chemoreceptor Trigger Zone’
1) Obat-obatan : opiat, ipecac, digoksin,
antikonvulsan
2) Toksin
3) Produk metabolisme : Asidemia,
·
ketonemia,
(diabetik ketoasidosis, lactic asidosis, fenilketonuria, renal tubular
asidosis)
·
Aminoasidemia
(tirosinemia, hipervalinemia, lisinuria, ‘maple syrup urine’)
·
Asidemia
organis (asidemia metilmalonik, asidemia propionik, asidemia isovalerik)
·
Hiperamonemia
(sindroma Reye, defek siklus urea)
·
Lain-lain
(intoleransi fruktosa herediter, galaktosemia, kelainanv oksidasi asam lemak, diabetes insipidus,
insufisiensi adrenal, hiperkalsemia, hipervitaminosis A)
c) Stimulasi pada reseptor perifer
gastrointestinalis atau obstruksi traktus gastrointestinalis atau keduanya
·
Faringeal
: refleks menelan (sekret sinusitis, ‘self induced rumination’)
·
Esofageal,
Fungsional : refluks, akhalasia, lain-lain, dismotilitas esophageal, Struktural
: striktura, cincin, atresia dll.
·
Gastrik
: Ulkus peptikum, infeksi, dismotolitas/gastroparesis, Obstruksi (benzoar, stenosis piloris,
penyakit granulomatosus kronik
Pada manusia muntah terdiri dari
3 aktivitas yang terkait, nausea (mual), retching dan pengeluaran isi lambung.
CTZ mengandung reseptor untuk bermacam-macam sinyal neuroaktif yang menyebabkan
muntah. Reseptor di CTZ diaktivasi oleh bahan-bahan proemetik di dalam
sirkulasi darah atau di cairan serebrospinal (CSF). Reseptor untuk dopamin
titik tangkap kerja dari apomorfin, asetilkolin, vasopresin, enkefalin,
angiotensin, insulin, endorfin, substansi P, dan mediator-mediator lain
Stimulator oleh teofilin dapat menghambat aktivitas proemetik dari bahan
neuropeptik tersebut.
Eferen dari CTZ dikirim ke CVC,
selanjutnya terjadi serangkaian kejadian yang dimulai melalui spangnik vagus
eferen. CVC terletak di traktus nukleus solitarius dan di sekitar formasio
retikularis medula tepat di bawah CTZ.
Muntah sebagai respons terhadap iritasi gastrointestinal, radiasi abdomen, dilatasi gastrointestinal adalah kerja dari signal aferen nervus vagus ke pusat muntah yang dipicu oleh pelepasan lokal mediator inflamasi dari mukosa yang rusak, dengan pelepasan sekunder neurotransmiter. Eksitasi paling penting adalah serotonin dari sel enterokromafin mukosa. Pada motion sickness diketahui bahwa gerakan perubahan arah tubuh yang cepat menyebabkan orang tertentu muntah, signal aferen ke pusat muntah berasal dari reseptor di labirin dan impuls ditransmisikan terutama melalui inti vestibular ke dalam serebelum, kemudian ke zona pencetus kemoreseptor, dan akhirnya ke pusat muntah.
Muntah sebagai respons terhadap iritasi gastrointestinal, radiasi abdomen, dilatasi gastrointestinal adalah kerja dari signal aferen nervus vagus ke pusat muntah yang dipicu oleh pelepasan lokal mediator inflamasi dari mukosa yang rusak, dengan pelepasan sekunder neurotransmiter. Eksitasi paling penting adalah serotonin dari sel enterokromafin mukosa. Pada motion sickness diketahui bahwa gerakan perubahan arah tubuh yang cepat menyebabkan orang tertentu muntah, signal aferen ke pusat muntah berasal dari reseptor di labirin dan impuls ditransmisikan terutama melalui inti vestibular ke dalam serebelum, kemudian ke zona pencetus kemoreseptor, dan akhirnya ke pusat muntah.
Berbagai rangsangan psikis, termasuk gambaran
yang memuakkan, dan faktor psikologi lain dapat menyebabkan muntah melalui
jaras kortek serebri dan sistem limbik menuju pusat muntah. Selain itu, gejala
gastrointestinal meliputi peristaltik, salivasi, takipnea, takikardi.
Terdapat tiga fase muntah, yaitu fase
prodromal (fase pre-ejeksi), fase ejeksi dengan retching dan muntah dan fase
post ejeksi.
a. Fase pre-ejeksi
Fase ini biasanya berlangsung sebentar, ditandai dengan mual dan
dihubungkan dengan peningkatan kadar vasopressin plasma (ADH), kadang-kadang
kenaikan ini melebihi tingkat vasopressin yang dibutuhkan dalam kerjanya
sebagai antidiuretik dan mengganggu aktifitas mioelektrisitas di antrum gaster
sehingga terjadi takigastria. Awal dari retching menyebabkan kontraksi
retrograde yang kuat dimulai dari usus halus bagian bawah membawa isi dari usus
halus kembali ke lambung.
Pada tahap awal dari iritasi gastrointestinal atau distensi yang
berlebihan, antiperistaltis mulai terjadi, sering beberapa menit sebelum muntah
terjadi. Antiperistaltis dapat dimulai sampai sejauh ileum di traktus
intestinal, dan gelombang antiperistaltik bergerak mundur, naik ke usus halus
dengan kecepatan 2-3cm/detik; proses ini dapat mendorong sebagian isi usus
kembali ke duodenum, menjadi sangat meregang. Peregangan ini menjadi faktor
pencetus yang menimbulkan tindakan muntah yang sebenarnya. Sistem saraf otonom
teraktivasi sehingga terjadi takikardi, vasokonstriksi dan berkeringat dingin.
Sistem saraf vagus membuat traktus intestinal bagian atas menjadi relaksasi dan
memicu salivasi.
b. Fase ejeksi
Retching biasanya mendahului muntah. Fungsi dari retching masih
belum diketahui. Muntah merupakan gabungan dari kontraksi ritmik yang
terkoordinasi dari diafragma, otot-otot interkostalis eksterna dan otot abdomen
memeras lambung dan mengeluarkan isi lambung.
Pada saat muntah, kontraksi intrinsik kuat terjadi baik pada duodenum maupun lambung, bersama dengan relaksasi sebagian dari sfingter esophagus bagian bawah, sehingga membuat muntahan mulai bergerak ke dalam esophagus. Setelah itu terjadi kerja muntah spesifik yang melibatkan otot-otot abdomen mengambil alih dan mendorong muntahan ke luar.
Pada saat muntah, kontraksi intrinsik kuat terjadi baik pada duodenum maupun lambung, bersama dengan relaksasi sebagian dari sfingter esophagus bagian bawah, sehingga membuat muntahan mulai bergerak ke dalam esophagus. Setelah itu terjadi kerja muntah spesifik yang melibatkan otot-otot abdomen mengambil alih dan mendorong muntahan ke luar.
Sekali pusat muntah telah cukup dirangsang dan timbul perilaku
muntah, efek yang pertama adalah
1) bernafas dalam
2) naiknya tulang lidah dan faring untuk menarik
sfingter esofagus bagian atas supaya terbuka
3) penutupan glottis
4) pengangkatan palatum mole untuk menutupi
nares posterior. Kemudian datang kontraksi yang kuat ke bawah diafragma bersama
dengan rangsangan kontraksi semua otot dinding abdomen.
Keadaan ini memeras perut di antara diafragma dan otot-otot
abdomen, membentuk suatu tekanan intragastrik sampai ke batas yang tinggi.
Akhirnya sfingter esophagus bagian bawah berelaksasi secara lengkap, membuat
pengeluaran isi lambung ke atas melalui esophagus. Jadi kerja muntah berasal
dari suatu kerja memeras otot-otot abdomen bersama dengan pembukaan sfingter
esophagus secara tiba-tiba sehingga isi lambung dapat dikeluarkan.
c. Fase Post-ejeksi
Fase post ejeksi belum seluruhnya dimengerti, bagaimana fungsi
normal tubuh kembali lagi sepenuhnya setelah mengalami muntah dan kapan muntah
pertama akan diikuti muntah lainnya lagi.
4 Evaluasi
Klinis
a. Evaluasi klinis muntah pada neonates
1) Muntah bilier
Dapat terjadi pada semua umur, menandakan obstruksi intestinal
atau infeksi sistemik. Abnormalitas dari anatomi traktus gastrointestinal yang
tampak pada minggu pertama kehidupan dengan muntah bilier dan distensi abdomen
termasuk di dalamnya malrotasi, volvulus, atresia usus, sumbatan mekonium,
hernia inkarserata dan agangliogenesis (Penyakit Hirscprung)
2) Necrotizing Enterocolitis (NEC)
Necrotizing Enterocolitis merupakan kejadian inflamasi traktus
intestinal paling sering pada neonatus. Gejala dari NEC adalah distensi
abdomen, muntah bilier dan adanya darah pada tinja. Bayi baru lahir
dengan NEC dapat juga menunjukan gejala infeksi sistemik nonspesifik, seperti
letargi, apneu, suhu tidak stabil dan syok. Necrotizing Enterocolitis terutama
ditemui pada bayi preterm dan NEC juga mempengaruhi 10% bayi yang lahir aterm.
3) Kelainan Metabolik
Inborn Errors of Metabolism harus diwaspadai akan adanya
penyakit neonatus akut. Beberapa faktor yang menyebabkan cenderung terjadinya
NEC. Keadaan terkait lainnya, termasuk letargi, hipotonia dan kejang.
4) Kelainan Neurologis
Abnormalitas susunan saraf pusat, seperti perdarahan
intrakranial, hidrosefalus dan edem serebri, harus dicurigai pada neonatus
dengan defisit neurologis, peningkatan lingkar kepala yang cepat dan penurunan
hematokrit yang tidak dapat dijelaskan.
b. Evaluasi klinis muntah pada bayi
1) Stenosis pylorus
Stenosis pilorus merupakan pertimbangan utama etiologi muntah
pada bayi. Hipertrofi pilorus menyebabkan obstruksi pengeluaran cairan gaster
di kanal pilorus. Lima persen bayi dengan orangtua yang mengalami stenosis
pilorus, mengalami kelainan ini. Laki-laki lebih dipengaruhi dibanding wanita.
Gejala stenosis pylorus dimulai pada umur dua hingga tiga minggu, namun dapat
terjadi pada rentang waktu sejak lahir hingga usia lima bulan. Massa berukuran
zaitun, dapat teraba di kuadran kanan atas.
2) Refluks gastroesofageal (GER)
GER merupakan kelainan gastroesofageal yang paling sering
terjadi di masa bayi. Kelainan ini disebabkan oleh fungsi sfingter esofageal
bagian bawah (Lower Esophageal Sfingter atau LES) yang belum matur pada bayi.
Pada GER ditemui relaksasi sementara dari sfingter esofagus bagian bawah yang
terjadi secara tiba-tiba, berlangsung singkat, dimana terjadi pergerakan
retrograde isi lambung ke dalam esofagus. GER mewakili fenomena fisiologis yang
sering dijumpai pada tahun pertama kehidupan. Sebanyak 60-70% bayi mengalami
muntah setelah 24 jam menyusu, hal ini berlangsung hingga usia 3-4 bulan.
Refluks gastroesofageal dapat menjadi patologis jika gejala menetap lebih dari 18-24 bulan dan atau ditemukannya komplikasi yang signifikan seperti gangguan tumbuh kembang, episode rekuren dari bronkospasme dan pneumonia, apneu atau refluks esofagitis.
Refluks gastroesofageal dapat menjadi patologis jika gejala menetap lebih dari 18-24 bulan dan atau ditemukannya komplikasi yang signifikan seperti gangguan tumbuh kembang, episode rekuren dari bronkospasme dan pneumonia, apneu atau refluks esofagitis.
Selama beberapa tahun, GER pada bayi dan anak diduga timbul
akibat tidak adanya tonus pada LES (Lower Esophageal Sfingter), namun banyak
penelitian terkini menunjukkan bahwa tekanan pada LES pada kebanyakan pasien
anak adalah normal, bahkan pada bayi preterm.
Mekanisme mayor yang terjadi pada bayi dan anak kini telah dibuktikan akibat adanya transien LES relazation. Beberapa faktor yang memicu terjadinya GER adalah peningkatan volume cairan intragastrik dan posisi telentang. GER dapat juga dipicu oleh penurunan viskositas cairan diet pada bayi dibandingkan dengan makanan dewasa yang lebih padat.
Mekanisme mayor yang terjadi pada bayi dan anak kini telah dibuktikan akibat adanya transien LES relazation. Beberapa faktor yang memicu terjadinya GER adalah peningkatan volume cairan intragastrik dan posisi telentang. GER dapat juga dipicu oleh penurunan viskositas cairan diet pada bayi dibandingkan dengan makanan dewasa yang lebih padat.
Dibandingkan dengan dewasa, bayi lebih mudah terkena GER karena
perbedaan daya kembang lambung dan waktu pengosongan lambung yang lebih lambat.
3) Alergi pada gastrointestinal
Alergi susu sapi sangat jarang ditemui pada bayi dan masa awal
kanak-kanak. Umumnya terjadi pada umur 2-3 tahun. Pada alergi ini dapat
terjadi muntah, diare, kolik dan kehilangan darah.
c. Evaluasi klinis dari muntah pada anak-anak
1) Ulkus peptikum pada anak lebih muda sering
dikaitkan dengan muntah. Ulkus peptikum harus dicurigai jika terdapat riwayat
ulkus pada keluarga atau jika terdapat hematemesis atau anemia defisiensi besi
yang tidak dapat dijelaskan atau nyeri yang sering membangunkan pasien dari
tidurnya.
2) Pankreatitisn
Pankreatitis relatif jarang menyebabkan muntah, namun seharusnya
dipertimbangkan pada pasien yang pernah mengalami trauma abdomen. Pasien
biasanya mengeluhkan nyeri epigastrium yang dapat menjalar ke punggung bagian
tengah.
Faktor predisposisi lainnya termasuk penyakit virus (gondongan),
obat (steroid, azatioprin), anomali kongenital traktus bilier atau traktus
pankreatikus, kolelitiasis, hipertrigliseridemia dan riwayat pankreatitis pada
keluarga
3) Gangguan sistem saraf pusat
Muntah persisten tanpa adanya keluhan sistemik atau keluhan
gastrointestinal lainnya menandakan adanya tumor intrakranial atau peningkatan
tekanan intrakranial. Penemuan gejala neurologis yang kurang jelas seperti
ataksia, harus ditatalaksana dan dilakukan pemeriksaan neurologis dengan
cermat.
5 Diagnosis
a. Anamnesis
Sifat dan ciri muntah akan membantu mengetahui penyebab muntah.
Muntah proyektil dapat dikaitkan dengan adanya obstruksi gastrointestinal atau
tekanan intrakranial yang meningkat. Muntah persisten pada neonatus dapat
dicurigai ke arah kelainan metabolik bawaan ditambah dengan adanya riwayat
kematian yang tidak jelas pada saudaranya dan multipel abortus spontan pada
ibunya.
Bahan muntahan dalam bentuk apa yang dimakan menunjukkan bahwa makanan belum sampai di lambung dan belum dicerna oleh asam lambung berarti penyebab muntahnya di esofagus. Muntah yang mengandung gumpalan susu yang tidak berwarna coklat atau kehijauan mencerminkan bahwa bahan muntahan berasal dari lambung.
Bahan muntahan dalam bentuk apa yang dimakan menunjukkan bahwa makanan belum sampai di lambung dan belum dicerna oleh asam lambung berarti penyebab muntahnya di esofagus. Muntah yang mengandung gumpalan susu yang tidak berwarna coklat atau kehijauan mencerminkan bahwa bahan muntahan berasal dari lambung.
Muntah yang berwarna kehijauan menunjukkan bahan muntahan
berasal dari duodenum di mana terjadi obstruksi di bawah ampula vateri. Bahan
muntahan berwarna merah atau kehitaman (coffee ground vomiting) menunjukkan
adanya lesi di mukosa lambung. Muntah yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan
robekan pada mukosa daerah sfingter bagian bawah esofagus yang menyebabkan
muntah berwarna merah kehitaman (Mallory Weiss syndrome). Adanya erosi atau
ulkus pada lambung menyebabkan muntah berwarna hitam, kecoklatan, atau bahkan
merah karena darah belum tercerna sempurna. Pada periode neonatal darah ibu
yang tertelan oleh bayi pada waktu persalinan atau puting susu ibu yang luka
akibat sedotan mulut bayi, warna muntah juga berwarna kecoklatan, dapat
dibedakan antara darah ibu dan bayi dengan Apt test (alkali denaturation test).
Muntah fekal menunjukan adanya peritonitis atau obstruksi intestinal.
Jenis dan jumlah makanan atau minuman sebelum muntah (ASI atau
susu formula, makanan atau minuman lainnya), kehilangan berat badan, miksi
terakhir dan perubahan perilaku harus dicermati. Poin penting lainnya adalah
apakah ada riwayat alergi atau intoleran makanan dan pengobatan sebelumnya,
apakah anak mengalami gejala lain seperti nyeri kepala, diare atau letargi.
Perlu juga ditanyakan kondisi medis anak sebelumnya, riwayat pembedahan,
riwayat bepergian ke negara berkembang dan sumber air minum dan apakah anak
sebelumnya mengkonsumsi makanan yang mungkin telah tercemar.
Kelainan anatomik kongenital, genetik, dan penyakit metabolik lebih sering terlihat pada periode neonatal, sedangkan peptik, infeksi, dan psikogenik sebagai penyebab muntah lebih sering terjadi dengan meningkatnya umur. Intoleransi makanan, perilaku menolak makanan dengan atau tanpa muntah sering merupakan gejala dari penyakit jantung, ginjal, paru, metabolik, genetik, atau kelainan neuromotorik.
Kelainan anatomik kongenital, genetik, dan penyakit metabolik lebih sering terlihat pada periode neonatal, sedangkan peptik, infeksi, dan psikogenik sebagai penyebab muntah lebih sering terjadi dengan meningkatnya umur. Intoleransi makanan, perilaku menolak makanan dengan atau tanpa muntah sering merupakan gejala dari penyakit jantung, ginjal, paru, metabolik, genetik, atau kelainan neuromotorik.
b. Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda dehidrasi yaitu ubun-ubun yang cekung, turgor kulit
kembali lambat/sangat lambat, mulut kering, air mata yang kering,berkurangnya
frekuensi miksi (kurang dari satu popok basah dalam enam jam pada bayi) atau
anak dengan denyut jantung cepat (bervariasi, tergantung umur anak) sehingga
dapat dinilai derajat dehidrasi untuk penatalaksanaan selanjutnya.
1) Iritasi peritonium dicurigai pada anak yang
menahan sakit dengan posisi memeluk lutut, perlu diperiksa adanya distensi,
darm countour dan darm steifung, peningkatan serta bising usus.
2) Teraba massa, organomegali, perut yang lunak
atau tegang harus diperhatikan dan diperiksa dengan seksama. Pada pilorus
hipertrofi akan teraba massa pada kuadran kanan atas perut.
3) Intususepsi biasanya ditandai dengan perut yang
lunak, masa berbentuk sosis pada kuadran kanan atas dan ada bahagian yang
kosong pada kuadran kanan bawah (Dance sign)
4) Rectal toucher, penurunan tonus sfingter ani,
dan feses yang keras dengan jumlah yang banyak pada ampula menandakan adanya
impaksi fekal. Konstipasi akan meningkatkan tonus sfingter ani, dan ampula yang
kosong menandakan Hirschsprung disease.
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
a) Darah lengkap
b) Elektrolit serum pada bayi dan anak yang
dicurigai mengalami dehidrasi.
c) Urinalisis, kultur urin, ureum dan kreatinin
untuk mendeteksi adanya infeksi atau kelainan saluran kemih atau adanya
kelainan metabolik.
d) Asam amino plasma dan asam organik urin perlu
diperiksa bila dicurigai adanya penyakit metabolik yang ditandai dengan
asidosis metabolik berulang yang tidak jelas penyebabnya.
e) Amonia serum perlu diperiksa pada muntah
siklik untuk menyingkirkan kemungkinan defek pada siklus urea.
f) Faal hepar, amonia serum, dan kadar glukosa
darah perlu diperiksa bila dicurigai ke arah penyakit hati.
g) Amilase serum biasanya akan meningkat pada
pasien pankreatitis akut. Kadar lipase serum lebih bermanfaat karena kadarnya
tetap meninggi selama beberapa hari setelah serangan akut.
h) Feses lengkap, darah samar dan parasit pada
pasien yang dicurigai gastroenteritis atau infeksi parasit.
2) Ultrasonografi
Dilakukan pada pasien dengan kecurigaan stenosis pilorik, akan
tetapi dua pertiga bayi akan memiliki hasil yang negatif sehingga menbutuhkan
pemeriksaan barium meal.
3) Foto polos abdomen
a) Posisi supine dan left lateral decubitus
digunakan untuk mendeteksi malformasi anatomik kongenital atau adanya obstruksi
b) Gambaran air-fluid levels menandakan adanya
obstruksi tetapi tanda ini tidak spesifik karena dapat ditemukan pada
gastroenteritis
c) Gambaran udara bebas pada rongga abdomen,
biasanya di bawah diafragma menandakan adanya perforasi.
d) Barium meal
Tindakan ini menggunakan kontras yang nonionik, iso-osmolar,
serta larut air. Dilakukan bila curiga adanya kelainan anatomis dan atau
keadaan yang menyebabkan obstruksi pada pengeluaran gaster.
e) Barium enema
Untuk mendeteksi obstrusi usus bagian bawah dan bisa sebagai
terapi pada intususepsi.
Diagnosis
Banding
Diagnosis banding muntah berdasarkan gejala
yang hampir sama adalah sebagai berikut:
a. Posseting
Pengeluaran
sedikit isi lambung sehabis makan, biasanya meleleh keluar dari mulut. Sering
didahului oleh bersendawa, tidak berbahaya dan akan menghilang dengan
sendirinya.
b. Ruminasi (Rumination, merycism)
Merupakan suatu kebiasaan abnormal, mengeluarkan isi lambung,
mengunyahnya dan kemudian menelannya kembali. Kadang-kadang dirangsang secara
sadar dengan mengorek faring dengan jari, tidak berbahaya. Kebiasaan ini sulit
dihilangkan, memerlukan bimbingan psikologik/psikoterapi yang intensif.
c. Regurgitasi
Disebabkan oleh inkompetens sfingter kardioesofageal dan/atau
memanjangnya waktu pengosongan isi lambung. Dapat mengganggu pertumbuhan dan
menimbulkan infeksi traktus respiratorius berulang akibat aspirasi. Bisa juga
sebagai salah satu penyebab sudden infant death syndrome. Sebagian besar akan
menghilang sendiri dengan bertambahnya umur bayi.
d. Refluks gastroesofageal (RGE)
RGE adalah keluarnya isi lambung ke dalam esophagus. Keadaan ini
mungkin normal atau dapat pula abnormal. Setaip refluks tidak selalu disertai
regurgitasi atau muntah, tetapi setiap regurgitasi pasti disertai refluks.
7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan awal pada pasien
dengan keluhan muntah adalah mengkoreksi keadaan hipovolemi dan gangguan
elektrolit. Pada penyakit gastroenteritis akut dengan muntah, obat rehidrasi
oral biasanya sudah cukup untuk mengatasi dehidrasi.
Pada muntah bilier atau suspek
obstuksi intestinal penatalaksanaan awalnya adalah dengan tidak memberikan
makanan secara peroral serta memasang nasogastic tube yang dihubungkan dengan
intermittent suction. Pada keadaan ini memerlukan konsultasi dengan bagian
bedah untuk penatalaksanaan lebih lanjut.
Pengobatan muntah ditujukan pada
penyebab spesifik muntah yang dapat diidentifikasi. Penggunaan antiemetik pada
bayi dan anak tanpa mengetahui penyebab yang jelas tidak dianjurkan. Bahkan
kontraindikasi pada bayi dan anak dengan gastroenteritis sekunder atau kelainan
anatomis saluran gastrointestinal yang merupakan kasus bedah misalnya,
hiperthrophic pyoric stenosis (HPS), apendisitis, batu ginjal, obstruksi usus,
dan peningkatan tekanan intrakranial. Hanya pada keadaan tertentu antiemetik
dapat digunakan dan mungkin efektif, misalnya pada mabuk perjalanan (motion
sickness), mual dan muntah pasca operasi, kemoterapi kanker, muntah siklik,
gastroparesis, dan gangguan motilitas saluran gastrointestinal.
Terapi farmakologis muntah pada
bayi dan anak adalah sebagai berikut :
a. Antagonis dopamine
Tidak diperlukan pada muntah akut disebabkan infeksi
gastrointestinal karena biasanya merupakan self limited. Obat-obatan antiemetik
biasanya diperlukan pada muntah pasca operasi, mabuk perjalanan, muntah yang
disebabkan oleh obat-obatan sitotoksik, dan penyakit refluks gastroesofageal.
Contohnya Metoklopramid dengan dosis pada bayi 0.1 mg/kgBB/kali PO 3-4 kali per
hari. Pasca operasi 0.25 mg/kgBB per dosis IV 3-4 kali/hari bila perlu. Dosis
maksimal pada bayi 0.75 mg/kgBB/hari. Akan tetapi obat ini sekarang sudah
jarang digunakan karena mempunyai efek ekstrapiramidal seperti reaksi distonia
dan diskinetik serta krisis okulonergik.
Domperidon adalah obat pilihan yang banyak digunakan sekarang ini karenadapat dikatakan lebih aman. Domperidon merupakan derivate benzimidazolin yang secara invitro merupakan antagonis dopamine. Domperidon mencegah refluks esophagus berdasarkan efek peningkatan tonus sfingter esophagus bagian bawah.
Domperidon adalah obat pilihan yang banyak digunakan sekarang ini karenadapat dikatakan lebih aman. Domperidon merupakan derivate benzimidazolin yang secara invitro merupakan antagonis dopamine. Domperidon mencegah refluks esophagus berdasarkan efek peningkatan tonus sfingter esophagus bagian bawah.
b. Antagonisme terhadap histamine (AH1)
Diphenhydramine dan Dimenhydrinate (Dramamine) termasuk dalam
golongan etanolamin. Golongan etanolamin memiliki efek antiemetik paling kuat
diantara antihistamin (AH1) lainnya. Kedua obat ini bermanfaat untuk mengatasi
mabuk perjalanan (motion sickness) atau kelainan vestibuler. Dosisnya oral:
1-1,5mg/kgBB/hari dibagi dalam 4-6 dosis. IV/IM: 5 mg/kgBB/haridibagi dalam 4
dosis.
c. Prokloperazin dan Klorpromerazin
Merupakan derivate fenotiazin. Dapat mengurangi atau mencegah
muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada CTZ. Mempunyai efek kombinasi
antikolinergik dan antihistamin untuk mengatasi muntah akibat obat-obatan,
radiasi dan gastroenteritis. Hanya boleh digunakan untuk anak diatas 2 tahun
dengan dosis 0.4–0.6 mg/kgBB/hari tiap dibagi dalam 3-4 dosis, dosis maksimal
berat badan <20>
d. Antikolinergik
Skopolamine dapat juga memberikan perbaikan pada muntah karena
faktor vestibular atau stimulus oleh mediator proemetik. Dosis yang digunakan
adalah 0,6 mikrogram/kgBB/ hari dibagi dalam 4 dosis dengan dosis maksimal
0,3mg per dosis.
e. 5-HT3 antagonis serotonin
Yang sering digunakan adalah Ondanasetron. Mekanisme kerjanya
diduga dilangsungkan dengan mengantagonisasi reseptor 5-HT yang terdapat pada
CTZ di area postrema otak dan mungkin juga pada aferen vagal saluran cerna.
Ondansentron tidak efektif untuk pengobatan motion sickness. Dosis mengatasi
muntah akibat kemoterapi 4–18 tahun: 0.15 mg/kgBB IV 30 menit senelum
kemoterapi diberikan, diulang 4 dan 8 jam setelah dosis pertama diberikan
kemudiansetiap 8jam untuk 1-2 hari berikutnya. Dosis pascaoperasi: 2–12 yr
<40>40 kg: 4 mg IV; >12 yr: dosis dewasa8 mg PO/kali.
8 Komplikasi
a. Komplikasi metabolik :
Dehidrasi, alkalosis metabolik, gangguan elektrolit dan asam
basa, deplesi kalium, natrium. Dehidrasi terjadi sebagai akibat dari hilangnya
cairan lewat muntah atau masukan yang kurang oleh karena selalu muntah.
Alkalosis sebagai akibat dari hilangnya asam lambung, hal ini diperberat oleh
masuknya ion hidrogen ke dalam sel karena defisiensi kalium dan berkurangnya
natrium ekstraseluler. Kalium dapat hilang bersama bahan muntahan dan keluar
lewat ginjal bersama-sama bikarbonat. Natrium dapat hilang lewat muntah dan
urine. Pada keadaan alkalosis yang berat, pH urine dapat 7 atau 8, kadar
natrium dan kalium urine tinggi walaupun terjadi deplesi Natrium dan Kalium
b. Gagal Tumbuh Kembang
Muntah berulang dan cukup hebat menyebabkan gangguan gizi karena
intake menjadi sangat berkurang dan bila hal ini terjadi cukup lama, maka akan
terjadi kegagalan tumbuh kembang.
c. Aspirasi Isi Lambung
Aspirasi bahan muntahan dapat menyebabkan asfiksia. Episode
aspirasi ringan berulang menyebabkan timbulnya infeksi saluran nafas berulang.
Hal ini terjadi sebagai konsekuensi GERD.
d. Mallory Weiss syndrome
Merupakan laserasi linier pada mukosa perbatasan esofagus dan
lambung. Biasanya terjadi pada muntah hebat berlangsung lama. Pada pemeriksaan
endoskopi ditemukan kemerahan pada mukosa esofagus bagian bawah daerah LES.
Dalam waktu singkat akan sembuh. Bila anemia terjadi karena perdarahan hebat
perlu dilakukan transfusi darah
e. Peptik esofagitis
Akibat refluks berkepanjangan pada muntah kronik menyebabkan
iritasi mukosa esophagus oleh asam lambung.
9 Prognosis
Prognosis pasien dengan gejala
muntah tergantung pada derajat dehidrasi dan penatalaksanaan dehidrasi,
etiologi penyakit yang menyebabkan muntah, serta komplikasi yang terjadi dari
muntah itu sendiri.
B. Konsep
Asuhan Keperawatan
1 Data
yang perlu di kaji
a. pengukuran panjang badan, berat badan
menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar.
b. keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel,
lesu, kesadaran menurun.
c. Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena
sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih
d. Mata : cekung, kering, sangat cekung
e. Sistem pencernaan : mukosa mulut kering,
distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun,
mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus,
minum sedikit atau kelihatan bisa minum
f. Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat
> 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)
g. Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120
x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .
h. Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor
menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral
dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada
daerah perianal.
i. Sistem perkemihan : urin produksi oliguria
sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
Diagnose
keperawatan
a. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan
berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b.d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
c. Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi
fisura perirektal.
d. Kecemasan keluarga b.d perubahan status
kesehatan anaknya
e. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi,
prognosis dan kebutuhan terapi b.d pemaparan informasi terbatas, salah
interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
f. Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang
tua, lingkungan yang baru
3 Rencana
tindakan keperawatan
a. Dx.1 Kekurangan volume cairan
b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual)
a. Tujuan
: Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda
dehidrasi
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Berikan
cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasiPantau intake dan
output.
|
Sebagai
upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.Memberikan
informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan
pengganti.
|
|
Kaji
tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium
|
Menilai
status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa
|
|
Kolaborasi
pelaksanaan terapi definitif
|
Pemberian
obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui
|
Dx.2
: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien
dan peningkatan peristaltik usus.
Tujuan
: Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan
bera badan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Pertahankan
tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
|
Menurunkan kebutuhan metabolik
|
|
Pertahankan
status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai
pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan
|
Pembatasan
diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan
peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera
mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan.
|
|
Bantu
pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet
|
Memenuhi
kebutuhan nutrisi klien
|
|
Kolaborasi
pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi
|
Mengistirahatkan
kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut
|
Dx.3
: Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
Tujuan
: Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet
pada perirektal
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Atur
posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
|
Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri
|
|
Lakukan
aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan
kompres hangat abdomen
|
Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian
kliendan meningkatkan kemampuan koping
|
|
Bersihkan
area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan
perawatan kulit
|
Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi
|
|
Kolaborasi
pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi
|
Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk
menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis
|
|
Kaji
keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan
karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal
|
Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan
intervensi selanjutnya
|
Dx.4
: Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.
Tujuan
: Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Dorong
keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang
mekanisme koping yang tepat.
|
Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan
alternatif pemecahan masalah
|
|
Tekankan
bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang
anaknya mengalami masalah yang sama
|
Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien
bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah yang demikian
|
|
Ciptakan
lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu
klien.
|
Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu
peningkatan kecemasan
|
Dx.5 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi,
prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah
interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
Tujuan
: Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya,
serta mampu mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Kaji
kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang
penyakit dan perawatan anaknya.
|
Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik
dan mental serta latar belakang pengetahuan sebelumnya.
|
|
Jelaskan
tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan
pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.
|
Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan
partisipasi keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien
|
|
Jelaskan
tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek
samping yang mungkin timbul
|
Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien
dalam pengobatan.
|
|
Jelaskan
dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi
|
Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien
terhadap kebutuhan perawatan diri anaknya
|
Dx. 6 : Kecemasan anak
b.d Perpisahan dengan orang tua, lingkugan yang baru
Tujuan
: Kecemasan anak berkurang dengan kriteria
memperlihatkan tanda-tanda kenyamanan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Anjurkan
pada keluarga untuk selalu mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam
perawatn yang dilakukan
|
Mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan
|
|
Berikan
sentuhan dan berbicara pada anak sesering mungkin
|
Memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress
|
|
Lakukan
stimulasi sensory atau terapi bermain sesuai dengan ingkat perkembangan klien
|
Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimun
|
DAFTAR
PUSTAKA
Dodge JA,1991; Vomiting and regurgitation. In Pediatric
gastrointestinal Disease. Pathophysiology, Diagnosis,Management. Ed by
Durie,Hamilton, Walker smith, Watkins.Black and Decker inc.p32-41
Dupuis LL, Nathan PC, 2003; Option for prevention and
management of acute chemotherapy inducaed nausea and vomiting in children.
Pediatr drugs, 5(9): 597-613.
Fitzgerald JF,Clark JH, 1988; Manual of pediatric
gastroenterology. Churchill livingstones p 25-32.
Murry KF, Christie DL. Vomiting Pediatrics in Review Vol. 19
No. 10 October 1998
Nelson WE, Behrman RE, Kliegman, RM Arvin AM, editors.
Nelson textbook of pediatrics. 15th ed Philadelphia . WB Saunders; 1996:1033
Orensteins SR,1993; Dysphagia and vomiting .In Pediatric
Gastroeintestinal Disease. Pathophysiology, Diagnosis, Management Edited by
Willy R, Hyams JS. WB Saunders Comp. 135-150.
Sondheimer JM, 2003; Vomiting. In Pediatric Gastrointestinal
Disease 3rd od.Edited by Walter, Durie, Hamilton, Walkersmith, Watkins. Black
and Decker Inc. p 97-115.
Sondheimer JM,2003; Vomiting In Pediatric Gastrointestinal
Disease 3rd od. Edited by Walter,Durie, Hmilton, Walkersmith, Watkins. Black
and Decker Inc. p 97-115.
Splinter WM, Robert DJ, 1996; Dexamethasone decreases
vomiting by children after tonsilectomy Anaesth and Analg, 83-913-916.
Splinter WM, Robert DJ,1997; Propylaxis for vomiting by
children ofter tonsillectomy: dexamethasone versus perphenazine. Anaesth and
Analg, 85: 534-537.
Wood JD,Alpers DH, Andrews PL Fundamentals of
neurogastroenterology Gut; Sep 1999;