Monday, 2 June 2014

LAPORAN PENDAHULUAN CRONIK KIDNEY DEASES (CKD) CAUSE DIABETES MELITUS

LAPORAN PENDAHULUAN
CRONIK KIDNEY DEASES (CKD) CAUSE DIABETES MELITUS

Yuflihul Khair, S.Kep.,Ns




KONSEP CRONIC KIDNEY DEASES (CKD) CAUSE DIABETES MELITUS
PENGERTIAN

Cronik Kidney Deases (CKD) adalah penurunan faal/fungsi ginjal yang menahun yang umumnya irreversible dan cukup lanjut (Suparman, 1990).

Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).  (Brunner & Suddarth,  2001; 1448). Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat, biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price,  1992; 812).

Sesuai dengan topik yang saya tulis didepan cronic kidney disease (CKD), pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure (CRF),  namun pada terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka untuk membatasi kelainan klien pada kasus secara dini,  kerena dengan CKD dibagi 5 grade,  dengan harapan klien datang/merasa masih dalam stage – stage awal yaitu 1 dan 2. secara konsep CKD, untuk menentukan derajat (stage) menggunakan terminology CCT (clearance creatinin test) dengan rumus stage 1 sampai stage 5. sedangkan CRF (cronic renal failure) hanya 3 stage. Secara umum ditentukan klien datang dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal stage bila menggunakan istilah CRF.

KLASIFIKASI

Klasifikasi CKD berdasarkan tingkat LFG, yaitu : (1) Stadium I : Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminuria persisten dan LFG nya yang masih normal yaitu > 90 ml/menit/1,72 m3. (2) Stadium II : Kelainan ginjal dengan albuminuria persisten dan LFG antara 60-89 ml/menit/1,73 m3. (3) Stadium III : Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 ml/menit/1,73 m3. (4) Stadium IV Kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29 ml/menit/1,73 m3. (5) Stadium V : Kelainan ginjal dengan LFG < 15 ml/menit/1,73 m3 

ETIOLOGI
Salah satu penyebab daripenyakit cronic kidney deases adalah penyakit metabolic yaitu diabetes melitus

TANDA DAN GEJALA : (1) Hematologic : Anemia, gangguan fungsi trombosit, trombositopnia, gangguan leukosit. (2) Gastrointestina. Anoreksia, nausea, vomiting, gastritis erosive. (3) Syaraf dan otot : Miopati, ensefalopati metabolic, kelemahan otot. (4) Kulit : Berwarna pucat, gatal-gatal dengan ekssoriasi, echymosis, urea frost, bekas garukan karena gatal. (5) Kardiovaskuler : Hipertensi, nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama jantung, edema. (6) Endokrin : Gangguan toleransi glukosa, gangguan metabolism lemak, fertilisasi dan ereksi menurun pada laki-laki, gangguan metabolism vitamin D.

KOMPLIKASI : (1) Hipertensi. (2) Infeksi traktus urinarius. (3) Obstruksi traktus urinarius. (4) Gangguan elektrolit. (5) Gangguan perfusi ke ginjal

PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1) Radiologi (foto polos abdomen) : besar ginjal; apakah ada batu ginjal atau obstruksi. (2) Pielografi intravena (PIV) : menilai sitem pelviokalises (3) Ultrasonografi (USG) : menilai besar, bentuk ginjal, kandung kemih, serta prostat. (4) Renogram : menilai fungsi ginjal kiri dan kanan.  (5) Pemeriksaan radiologi jantung     : mencari apakah ada kardiomegali, efusi pericardial. (6) Pemeriksaan radiologi tulang : mencari oesteodistrofi, metastasik. (7) Pemeriksaan radiologi paru : mencari uremik lung. (8) Pemeriksaan pielografi retergrad : bila dicurigai obstruksi yang reversible. (9) Elektrokardiograf : untuk melihat hipertrofi ventrikel kiri. (10) Biopsy ginjal. (11) Pemeriksaan lab, LED, anemia, ureum dan kreatinin meningkat, hemoglobin, hiponatremia, hiperkalemia, hipokalsemia, hiperfosfatemia, peningkatan gula darah, asidosis metabolok, HCo2 menurun, BE menurun, dan PaCo2 menurun.

PENATALAKSANAAN MEDIS & KEPERAWATAN
Penatalaksanaan Medis
Dilakukan tindakan CAPD dengan insersi catheter dengan peritoneuscope yaitu; (1) Persiapan: dipuasakan 4 jam, H-1 operasi pasien harus defekasi dan bila obstipasi diberi dulcolax, pagi hari sebelum operasi dipasang iv, pasien di cukur rambutnya di kulit abdomen, dan sebelum berangkat ke ruangan tindakan pasien harus mengosongkan kandung kemih atau dipasang folley catheter. (2) Prosedur operasi. Posisi trendelenberg (3) Buat marker di abdomen, desinfeksi dinding abdomen, anetesi daerah insisi dengan lidocaine 1%, kemudian insisi kulit sepanjang 3 cm. (4) Jaringan lemak dibuka tumpul sampai terlihat fascia external, sambil pasien menahan nafas masukan quill guide assembly posisi 30 derajat kearah coccyx sampai menembus peritoneum. (5) Tarik trocar, masukan air menggunakan syrine, cek meniscus dan pergerakan air sesuai nafas. (6) Hubungkan dengan selang insuflaor, masukan udara sebanyak 1000-1500 ke dalam abdomen. (7) Setelah insuflator dilepas masukan scope lewat canula, arahkan ke rongga pelvic pastikan ada space dan tidak ada adhesi pada pelvic, pertahankan posisi quill dengan clem artei. (8) Canula dilepas dengan gerakan pelan berputar, masukan dilator kecil dan besar setelah sebelumnya dilubrikasi dengan lignocain gel. Buat gerakan maju mundur, dilator besar dipertahankan sambil mempersiapkan teckoff catheter dimasukan lewat stylet (9) Catheter dilepas, pasang cuff implanter. Pasien menahan adinding abdomen dan implanter di dorong sampai cuff menembus fascia. Stylet dan quill ditarik. (10) Kateter di test. Dibuat marker tempat exite site, dilakukan anestesi sepanjang daerah tunnel, tunneler dimasukan dan exite site menuju daerah insisi lalu kateter disambungkan menuju tunneler. Kateter dan tunneler ditarik melewati exite site dan disambung dengan extension catheter, posisi exite site 2 cm dari kulit. (11) Luka insisi di jahit. (12) Operasi selesai

Penatalaksanaan keperawatan : (1) Tentukan tatalaksana terhadap penyebab CKD. (2) Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam. (3) Diet tinggi kalori rendah protein. (4) Kendalikan hipertensi. (5) Jaga keseimbangan elektrolit. (6) Mencega dan tatalaksana penyakit tulang akibat CKD. (7) Deteksi dini terhadap komplikasi . (8) Kolaborasi dalam tindakan CAPD

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Biodata  : Gagal Ginjal Kronik terjadi terutama pada usia lanjut (50-70 th), usia muda, dapat terjadi pada semua jenis kelamin tetapi 70 % pada pria.
Keluhan utama : Kencing sedikit, tidak dapat kencing, gelisah, tidak selera makan (anoreksi), mual, muntah, mulut terasa kering, rasa lelah, nafas berbau (ureum), gatal pada kulit.

Riwayat penyakit : (1) Sekarang : Diare, muntah, perdarahan, luka bakar, rekasi anafilaksis, renjatan kardiogenik. (2) Dahulu : Riwayat penyakit gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, payah jantung, hipertensi, penggunaan obat-obat nefrotoksik, Benign Prostatic Hyperplasia, prostatektomi. (3) Keluarga : Adanya penyakit keturunan Diabetes Mellitus (DM).

Tanda vital : Peningkatan suhu tubuh, nadi cepat dan lemah, hipertensi, nafas cepat dan dalam (Kussmaul), dyspnea.

Pemeriksaan Fisik :
Pernafasan (B 1 : Breathing) : (1) Gejala: Nafas pendek, dispnoe nokturnal, paroksismal, batuk dengan/tanpa sputum, kental dan banyak. (2) Tanda : Takhipnoe, dispnoe, peningkatan frekuensi, Batuk produktif dengan / tanpa sputum.
Cardiovascular (B 2 : Bleeding) : (1) Gejala: Riwayat hipertensi lama atau berat. Palpitasi nyeri dada atau angina dan sesak nafas, gangguan irama jantung, edema. (2) Tanda : Hipertensi, nadi kuat, oedema jaringan umum, piting pada kaki, telapak tangan, Disritmia jantung, nadi lemah halus, hipotensi ortostatik, friction rub perikardial, pucat, kulit coklat kehijauan, kuning.kecendrungan perdarahan.

Persyarafan (B 3 : Brain) : (1) Kesadaran: Disorioentasi, gelisah, apatis, letargi, somnolent sampai koma.

Perkemihan-Eliminasi Uri (B 4 : Bladder) : (1) Gejala : Penurunan frekuensi urine (Kencing sedikit (kurang dari 400 cc/hari), warna urine kuning tua dan pekat, tidak dapat kencing), oliguria, anuria (gagal tahap lanjut) abdomen kembung, diare atau konstipasi. (2) Tanda: Perubahan warna urine, (pekat, merah, coklat, berawan) oliguria atau anuria.

Pencernaan - Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel) : Anoreksia, nausea, vomiting, fektor uremicum, hiccup, gastritis erosiva dan Diare

Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone) : (1) Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki, (memburuk saat malam hari), kulit gatal, ada/berulangnya infeksi. (2) Tanda : Pruritus, demam (sepsis, dehidrasi), ptekie, area ekimoosis pada kulit, fraktur tulang, defosit fosfat kalsium,pada kulit, jaringan lunak, sendi keterbatasan gerak sendi.

Pola aktivitas sehari-hari
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat : Pada pasien gagal ginjal kronik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gagal ginjal kronik sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien.

Pola nutrisi dan metabolisme : Anoreksia, mual, muntah dan rasa pahit pada rongga mulut, intake minum yang kurang. dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan klien. Peningkatan berat badan cepat (oedema) penurunan berat badan (malnutrisi) anoreksia, nyeri ulu hati, mual muntah, bau mulut (amonia), Penggunaan diuretic, Gangguan status mental, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, kejang, rambut tipis, kuku rapuh.

Pola Eliminasi : Kencing sedikit (kurang dari 400 cc/hari), warna urine kuning tua dan pekat, tidak dapat kencing. Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (gagal tahap lanjut) abdomen kembung, diare atau konstipasi, Perubahan warna urine, (pekat, merah, coklat, berawan) oliguria atau anuria.
Pola tidur dan Istirahat : Gelisah, cemas, gangguan tidur.
Pola Aktivitas dan latihan : Klien mudah mengalami kelelahan dan lemas menyebabkan klien tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
Pola hubungan dan peran : Kesulitan menentukan kondisi. (tidak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran).
Pola sensori dan kognitif : Klien dengan gagal ginjal kronik cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya trauma. Klien mampu melihat dan mendengar dengan baik/tidak, klien mengalami disorientasi/ tidak.

Pola persepsi dan konsep diri : Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem).

Pola seksual dan reproduksi : Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi seksual, gangguan kualitas maupun ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme. Penurunan libido, amenorea, infertilitas.

Pola mekanisme / penanggulangan stress dan koping : Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, faktor stress, perasaan tidak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan, karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain – lain, dapat menyebabkan klien tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif. Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan. Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.

Pola tata nilai dan kepercayaan : Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta gagal ginjal kronik dapat menghambat klien dalam melaksanakan ibadah maupun mempengaruhi pola ibadah klien

Diagnosa Keperawatan  : (1) Resiko terjadinya penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, penumpukan urea toksin. (2) Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan turgor kulit akumulasi ureum pada kulit. (3) Anemia berhubungan dengan menurunnya preduksi erittropoiesis

Intervensi Keperawatan
Resiko terjadinya penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, penumpukan urea toksin.

Tujuan : penurunan curah jantung tidak terjadi

Criteria hasil : tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg-140/90 mmHg), nadi normal 60-120 kali/menit, capillary refill time yang baik.

Intervesi : (1) Auskultasi suara jantung,paru. (2) Rasional; adanya edema paru, kongesti vaskuler, keluhan dyspneu menunjukan adanya renal failure. (3) Monitor tanda-tanda vital, catat bila ada perubahan tekanan. (4) Rasional; hipertensi yang signifikan merupakan akibat dari gangguan rennin angiotensin dan aldeosteron. (5) Nilai tingkat kemampuan klien beraktifitas. (6) Kelemahan dapat terjadi akibat dari tidak lancarnya peredaran darah. (7)Kolaborasi dalam pemeriksaan lab, pemberian obat.

Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan turgor kulit akumulasi ureum pada kulit.
Tujuan ; (1) tidak terjadi kerusakan integritas kulit. (2) Kulit tidak lecet, klien mampu mendemonstrasikan cara untuk mencegah terjadinya kerusakan integritas kulit.

Intervensi: (1) Kaji keadaan kuliit terhadap kemerahan dan adanya excoriasi. Rasional; sirkulasi darah yang kurang menyebabkan kulit mudah rusak dan memudahkan timbulnya dekubitus/ infeksi. (2) Ganti posisi tiap 2 jam sekali Rasional; mengurangi tekanan pada daerah yang edema. (3) Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Rasional; mencegah iritasi kulit, meningkatkan evaporasi. (4) Jaga kelembapan kulit. Rasional; kulit basah terus menerus memicu terjadinya iritasi/dekubitus.

Anemia berhubungan dengan menurunnya preduksi erittropoiesis
Tujuan; terjadi peningkatan kadar hemoglobin

Kriteria; perfusi jaringan baik, akral hangat, merah dan kering.

Intervensi : (1) Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering Rasional; kekeringan meningkatkan sensitifitas kulitbdengan meransang ujung saraf. (2) Cegah penghangatan yang berlebihan. Rasional; penghangatan berlebihan meningkatkan sensitifitas kulit melalui vasodilatasi. (3) Anjurkan tidak menggaruk. Rasional; garukan meransang pelepasan histamine. (4) Observasi ttv. Rasional; sebagai deteksi dini terhadap perkembangan klien dan penentuan terhadap tindakan selanjutnya. (5) Kolaborasi dalam pemberian transfuse. Rasional; mencegah anemia berkelanjutan.

DAFTAR  PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.1999.Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2. EGC: Jakarta.

Price , S.A.S. Wilson, L. M. 1995. Patofisiologi Konsep klinis dan Proses-proses Penyakit. EGC; Jakarta.

Suparman, 1990. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: FKUI.

SMF UPF Bedah. 1994. Pedoman Diagnosa & Terapi. Surabaya.

Gyton, A,C. & Hall, J.E.1997. Buku Ajar: Patofisiologi Kedokteran, Edisi 9. EGC: Jakarta.

KLIK DOWNLOAD DIBAWAH INI UNTUK MENDAPATKAN 
FILE LENGKAP DALAM BENTUK PDF
 



No comments:

Popular Posts