Tuesday, 2 September 2014

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENAN KEHAMILAN EKTOPIK(KEHAMILAN DI LUAR RAHIM)

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENAN KEHAMILAN EKTOPIK 
(KEHAMILAN DI LUAR RAHIM)


Yuflihul Khair.,S.Kep.,Ns



PENGERTIAN
Kehamilan ektopik atau juga dikenal sebagai kehamilan di luar kandungan merupakan suatu kondisi kehamilan dimana sel telur yang sudah dibuahi tidak mampu menempel atau melekat pada rahim ibu, namun melekat pada tempat yang berbeda yaitu di tuba falopi atau saluran telur (kehamilan di luar kandungan yang sering terjadi), leher rahim, dalam rongga perut atau indung telur.

Atau dengan kata lain, kehamilan ektopik merupakan suatu kondisi dimana sel telur yang telah dibuahi mengalami implantasi pada tempat selain tempat seharunya, yaitu uterus. Jika sel telur yang telah dibuahi menempel pada saluran telur, hal ini akan menyebabkan bengkaknya atau pecahnya sel telur akibat pertumbuhan embrio.

Kehamilan ektopik menimpa sekitar 1% dari seluruh kehamilan dan hal ini merupakan suatu kondisi darurat dimana dibutuhkan pertolongan secepatnya. Karena jika dibiarkan kondisi ini sangat berbahaya dan mampu mengancam nyawa ibu, hal ini disebabkan oleh perdarahan dalam rongga abdomen, dan bukan terjadinya perdarahan keluar.

Dalam kasus kehamilan ektopik, janin memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk dapat bertahan hidup. Namun di sejumlah kondisi kecil, contoh pada kehamilan abdominal, kehamilan dan janin bisa bertahan hingga masa persalinan dan jika persalinan dilakukan dengan cara caesar, maka ada harapan serta kemungkinan bayi untuk dapat bertahan hidup.

Peluang kehamilan ektopik lebih tinggi jika saluran telur rusak karena radang perut (misalnya usus buntu atau infeksi klamidia) atau karena operasi rongga perut. IUD (spiral) juga meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

MACAM-MACAM KEHAMILAN EKTOPIK
Berbagai macam faktor berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik. Semua faktor yang menghambat migrasi embrio ke kavum uteri menyebabkan seorang ibu semakin rentan untuk menderita kehamilan ektopik. Beberapa faktor yang dihubungkan dengan kehamilan ektopik diantaranya : (1) Faktor dalam lumen tuba : (a) Endosalpingitis, menyebabkan terjadinya penyempitan lumen tuba. (b) Hipoplasia uteri, dengan lumen tuba menyempit dan berkelok-kelok. (c) Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna dan menyebabkan lumen tuba menyempit. (2) Faktor pada dinding tuba : (a) Endometriosis, sehingga memudahkan terjadinya implantasi di tuba. (b) Divertikel tuba kongenital, menyebabkan retensi telur di tempat tersebut. (3) Faktor di luar dinding tuba : (a) Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba, mengakibatkan terjadinya hambatan perjalanan telur. (b) Tumor yang menekan dinding tuba, menyebabkan penyempitan lumen tuba. (c) Pelvic Inflammatory Disease (PID). (4) Faktor lain : (a) Hamil saat berusia lebih dari 35 tahun. (b) Migrasi luar ovum, sehingga memperpanjang waktu telur yang dibuahi sampai ke uterus. (c) Fertilisasi in vitro. (d) Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR). (e) Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya. (f) Merokok. (g) Penggunaan dietilstilbestrol (DES). (h) Uterus berbentuk huruf T. (i) Riwayat operasi abdomen. (j) Kegagalan penggunaan kontrasepsi yang mengandung progestin saja. (k) Ruptur appendix. (l) Mioma uteri

Patofisiologi
    
Pada kehamilan normal, proses pembuahan (pertemuan sel telur dengan sperma) terjadi pada tuba, kemudian sel telur yang telah dibuahi digerakkan dan berimplantasi pada endometrium rongga rahim. Kehamilan ektopik yang dapat disebabkan antara lain faktor di dalam tuba dan luar tuba, sehingga hasil pembuahan terhambat/tidak bisa masuk ke rongga rahim, sehingga sel telur yang telah dibuahi tumbuh dan berimplantasi (menempel) di beberapa tempat pada organ reproduksi wanita selain rongga rahim, antara lain di tuba falopii (saluran telur), kanalis servikalis (leher rahim), ovarium (indung telur), dan rongga perut. Yang terbanyak terjadi di tuba falopii (90%)

Gejala
Jika Anda mengalami kehamilan ektopik, gejala biasanya akan terasa pada sekitar 6 – 10 minggu usia kehamilan. Jika Anda mendapatkan gejala berikut, : (1) Sakit di salah satu sisi panggul. (2) Perdarahan vagina di luar menstruasi. (3) Nyeri di perut bagian bawah. (4) Pingsan. (5) Mual. Pada tahap lanjut, kehamilan ektopik dapat menimbulkan gejala : Nyeri perut yang intens, Hipotensi, Denyut nadi cepat, dan kulit pucat

Penyebab Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik biasanya disebabkan oleh berbagai hal, dan yang paling sering adalah disebabkan adanya infeksi pada saluran falopi (tuba falopi). Kehamilan ektopik besar kemungkinan terjadi pada kondisi: (1) Ibu pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya (terdapat riwayat kehamilan ektopik). (2) Ibu pernah mengalami operasi pembedahan pada daerah sekitar tuba falopi. (3) Ibu pernah mengalami Diethylstiboestrol (DES) selama masa kehamilan. (4) Kondisi tuba fallopi yang mengalami kelainan kongenital. (5) Memiliki riwayat Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti gonorrhea, klamidia dan PID (pelvic inflamamtory disease.

Diagnosis
Karena beberapa gejala di atas juga dapat terjadi pada kehamilan normal, dokter bisa sulit untuk mendiagnosis. Oleh karena itu, ada sejumlah tes yang dapat dilakukan jika dicurigai ada kehamilan ektopik. Menggunakan ultrasound, dokter mungkin dapat melihat kehamilan ektopik, karena adanya darah di tuba falopi yang rusak atau ada embrio di luar uterus. Laparoskopi melalui sayatan kecil di perut dapat dengan mudah melihat bila ada embrio di luar rahim. Mengukur kadar hormon kehamilan hCG (human chorionic gonadotopin) adalah cara lain untuk mendeteksi kehamilan ektopik. Dalam kehamilan normal, kadar hCG berlipat kira-kira setiap dua hari hingga minggu ke-12. Jika hCG diperkirakan tidak meningkat, mungkin ada sesuatu yang salah dalam kehamilan. Dokter akan selalu mencoba mendiagnosis kehamilan ektopik sedini mungkin. Dengan demikian, kerusakan biasanya masih terbatas dan risiko perdarahan internal dan komplikasi terkait masih rendah.

Pengobatan
Kehamilan ektopik harus selalu dibatalkan dan dokter akan mencoba untuk menahan laju pertumbuhan embrio dengan obat-obatan. Lebih cepat kehamilan ektopik terdeteksi, semakin besar kemungkinan kehamilan dapat dibatalkan tanpa menimbulkan efek jangka panjang. Bila kehamilan ektopik terdeteksi di tahap awal, seringkali embrio dapat ditangani dengan obat suntik dan diserap oleh tubuh Anda. Dalam terapi ini tuba falopi biasanya masih utuh. Dalam situasi yang lebih serius, misalnya ketika tuba falopi sudah mengembang, maka diperlukan operasi.

Prognosis
Wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik, ada kemungkinan sekitar 12% akan terkena lagi di masa mendatang. Karena itu, bila Anda pernah mengalaminya Anda harus memberitahu dokter atau bidan Anda. Sekitar 60% wanita menjadi subur kembali setelah kehamilan ektopik, 30% tidak ingin hamil karena pengalaman itu dan 10% menjadi infertil (tidak subur). Dukungan positif suami, saudara, atau teman terdekat akan sangat diperlukan bagi wanita yang mengalami kehamilan ektopik. Hal ini diharapkan dapat mengurangi pengalaman traumatic dari kehamilan ektopik, sehingga recovery dan keinginan untuk hamil kembali bisa secapatnya pulih (tentunya melihat kondisi setelah mengalami kehamilan ektopik). Konsultasikan kondisi anda kepada dokter atau bidan jika anda ingin hamil kembali setelah mengalami kehamilan ektopik. Hal ini sangatlah penting untuk dilakukan, agar dokter atau bidan dapat memberikan langkah-langkah yang harus di tempuh untuk menghindari kembali terjadinya kehamilan ektopik. Dan jika, memutuskan untuk hamil kembali, maka pengawasan ketat terhadap kehamilan berikutnya sangat diperlukan, guna menjaga agar kehamilan tetap berlangsung dengan baik sampai masa persalinan nanti.

Pengkajian : (1) Nyeri . (2) Sulit tidur. (3) Merasa. (4) Panas

Diagnosa Keperawatan : (1) Nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitas jaringan kulit sekunder akibat sectio caesaria ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada daerah bekas operasi. (2) Ansietas yang berhubungan dengan kritisituasi, ancaman yang dirasakan dari kesejahteraan maternal yang ditandai dengan pasien mengatakan sulit tidur.

Rencana Keperawatan :
(1) Nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitas jaringan kulit sekunder akibat sectio caesaria ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada daerah bekas operasi. Tujuan : nyeri berkurang
Intervensi : (1) Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri, perhatikan isyarat verbal dan non verbal setiap 6 jam. Rasional : menentukan tindak lanjut intervensi. (2) Pantau tekanan darah, nadi dan pernafasan tiap 6 jam
Rasional : nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan darah meningkat, nadi, pernafasan meningkat
. (3) Kaji stress psikologis ibu dan respons emosional terhadap kejadian. (4) Rasional : Ansietas sebagai respon terhadap situasi dapat memperberat ketidaknyamanan karena sindrom ketegangan dan nyeri. (5) Terapkan tehnik distraksi (berbincang-bincang). Rasional : mengalihkan perhatian dari rasa nyeri. (6) Ajarkan tehnik relaksasi (nafas dalam) dan sarankan untuk mengulangi bila merasa nyeri. Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan otot-otot sehingga nmengurangi penekanan dan nyeri. (6) Beri dan biarkan pasien memilih posisi yang nyaman. Rasional : mengurangi keteganagan area nyeri. (7) Kolaborasi dalam pemberian analgetika.
Rasional : analgetika akan mencapai pusat rasa nyeri dan menimbulkan penghilangan nyeri.

Ansietas yang berhubungan dengan kritisituasi, ancaman yang dirasakan dari kesejahteraan maternal yang ditandai dengan pasien mengatakan sulit tidur
Tujuan : ansietas berkurang, pasien dapat menggunakan sumber/system pendukung dengan efektif. 
Intervensi :  (1) Kaji respons psikologi pada kejadian dan ketersediaan sitem pendukung.  (2) Rasional : Makin ibu meraakan ancaman, makin besar tingkat ansietas.  (3) Tetap bersama ibu, dan tetap bicara perlahan, tunjukan empati.  (4) Rasional : membantu membatasi transmisi ansietas interpersonal dan mendemonstrasakan perhatian terhadap ibu/pasangan.  (5) Beri penguatan aspek positif pada dari ibu
Rasional : membantu membawa ancaman yang dirasakan/actual ke dalam perspektif. 
(6) Anjurkan ibu pengungkapkan atau mengekspresikan perasaan. (7) Rasional : membantu mengidentifikasikan perasaan dan memberikan kesempatan untuk mengatasi perasaan ambivalen atau berduka. Ibu dapat merasakan ancaman emosional pada harga dirinya karena perasaannya bahwa ia telah gagal, wanita yang lemah.  (8) Dukung atau arahkan kembali mekanisme koping yang diekspresikan.  Rasional : Mendukung mekanisme koping dasar dan otomatis meningkatkan kepercayaan diri serta penerimaan dan menurunkan ansietas.  (9) Berikan masa privasi terhadap rangsangan lingkungan seperti jumlah orang yang ada sesuai keinginan ibu.
Rasional : Memungkinkan kesempatan bagi ibu untuk memperoleh informasi, menyusun sumber-sumber, dan mengatasi cemas dengan efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Klaus & Fanaroff. 1998. Penata Laksanaan Neonatus Resiko Tinggi. Edisi 4 EGC. Jakarta.

Markum,A.H. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, jilid I,Bagian Ilmu   Kesehatan Anak,FKUI,Jakarta.

Nelson. 2000. Ilmu kesehatan Anak,volume 2 Edisi 15. EGC. Jakarta.

Wong. Donna. L. 1990. Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric        Nursing,Fourth Edition,Mosby-Year Book Inc, St. Louis Missouri.

KLIK DIBAWAH INI UNTUK MENDAPATKAN 
FILE DALAM FORMAT MS WORD (doc)


No comments:

Popular Posts