Saturday, 9 August 2014

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PERAWAT DALAM PENANGANAN DEHIDRASI PADA PASIEN DIARE DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KABUPATEN BIMA


RINGKASAN PROPOSAL

HUBUNGAN HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PERAWAT DALAM PENANGANAN DEHIDRASI PADA PASIEN DIARE DI RUANG IGD RSUD KABUPATEN BIMA

 
DEVI KHAIRUNNAS
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM TAHUN 2014


LATAR BELAKANG
Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (lebih dari tiga kali) dalam satu hari. Diare merupakan penyakit yang banyak kali berjangkit pada masyarakat terutama pada anak usia sekolah. Survei Kesehatan Nasional tahun 2011 menempatkan diare pada posisi tertinggi kedua sebagai penyakit paling berbahaya pada balita. Diare dilaporkan telah membunuh 4 juta anak setiap tahun di negara-negara berkembang (Depkes RI, 2011).

Menurut WHO angka kesakitan diare pada tahun 2010 yaitu 411 penderita per 1000 penduduk. Beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya penyakit diare adalah disebabkan oleh kuman melalui koordinasi makanan atau minuman yang tercemar tinja dan kontak langsung dengan penderita, sedangkan faktor-faktor lainnya meliputi faktor perilaku dan lingkungan (Direktorat Jendral PPM & PL, 2011).

Di Indonesia, diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering kali menimbulkan gejala kejadian luar biasa (KLB). Menurut Kementrian Kesehatan RI Dirjen Pengendalian Dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2011, angka kesakitan diare semua umur tahun 2000 adalah 301/1000 penduduk., tahun 2003 adalah 374/1000 penduduk,tahun 2006 adalah 423/1000 penduduk, dan 2010 411/1000 penduduk. Kematian diare pada balita 75,3/100.000 balita dan penyebab dan semua umur 23,2 per 100.000 penduduk semua umur (SKRT 2001).  Diare merupakan penyebab kematian nomor 4 (13,2%) pada semua umur dalam kelompok penyakit menular. Proporsi diare sebagai penyebab kematian nomor 1 pada post neonatal (31,4%) dan pada anak balita (25,2%) (Kemenkes, 2011).

Karena itu, peran perawat dalam melakukan penatalaksanaan terhadap dehidrasi pada pasien diare diperlukan suatu pengetahuan, karena pengetahuan merupakan salah satu komponen faktor predisposisi yang penting. Peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku tetapi mempunyai hubungan yang positif, yakni dengan peningkatan pengetahuan maka terjadinya perubahan perilaku akan cepat (Notoatmodjo S. 2007). Salah satu pengetahuan perawat yang sangat penting adalah bagaimana penanganan pada pasien diare yaitu dengan mencegah dan mengatasi keadaan dehidrasi. Pemberian cairan pengganti (cairan rehidrasi) baik yang diberikan secara oral (diminumkan) maupun parenteral (melalui infus) telah berhasil menurunkan angka kematian akibat dehidrasi pada ribuan pasien yang menderita diare (IDAI 2008).
RUMUSAN MASALAH
Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah “Adakah hubungan pengetahuan dengan sikap perawat dalam penanganan dehidrasi pada pasien diare di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum (RSUD) Bima?”.

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum  : Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap perawat dalam penanganan dehidrasi pada pasien diare di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima.

Tujuan khusus : (1) Mendeskripsikan tingkat pengetahuan perawat tentang penanganan dehidrasi pada pasien diare di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima. (2) Mendeskripsikan sikap perawat dalam penanganan dehidrasi pada pasien diare di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima. (3) Menganalisis hubungan pengetahuan dengan sikap perawat dalam penanganan dehidrasi pada pasien diare di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima

SUBYEK PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima dan yang menjadi subyek penelitian adalah perawat yang bertugas di Instalasi gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bima.

POPULASI
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2003). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua perawat yang bertugas di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum (RSUD) Bima berjumlah 35 orang.

SAMPEL
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Dalam penelitian yang menjadi sampel adalah semua perawat yang bertugas di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

RANCANGAN PENELITIAN
Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif analitik yaitu jenis penelitian yang digunakan untuk mengetahui hubungan suatu variabel dengan variabel lain yang diusahakan dengan mengidentifikasi kedua variabel yang ada pada responden yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antara keduanya (Notoadmodjo, 2005).


ANALISA DATA
Pengolahan data dilakukan dengan cara univariat dan bivariat, dimana data univariat untuk menampilkan data karakteristik perawat yang terdiri dari umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan dan diolah dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase. Sedangkan bivariat untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan dengan sikap perawat dalam penanganan dehidrasi pada pasien diare. Hubungan pengetahuan dengan sikap perawat dalam penanganan dehidrasi pada pasien diare dianalisa secara statistik dengan menggunakan uji statistik korelasi Chi-Square. Hasil dari analisa uji statistik korelasi Chi-Square dengan derajat kemaknaan α sebesar 5% (0,05), jika nilai p-Value kurang dari atau sama dengan nilai α (0.05) berarti hubungan yang signifikan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesa alternatif (Ha) diterima dan dapat diinterpretasikan sebagai adanya hubungan pengetahuan dengan sikap perawat dalam penanganan dehidrasi pada pasien diare dan jika nilai              p-Value lebih dari nilai α (0.05) berarti hubungan yang tidak signifikan, maka hipotesa alternatif (Ha) ditolak dan otomatis menerima hipotesa nol (Ho). Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai tidak terdapatnya hubungan pengetahuan dengan sikap perawat dalam penanganan dehidrasi pada pasien diare.


FILE
KLIK  DOWNLOAD
DIBAWAH INI
COVER
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN 
DAFTAR PUSTAKA 
LAMPIRAN 



No comments:

Popular Posts