Thursday, 2 July 2015

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ANEMIA APLASTIK

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN ANEMIA APLASTIK

Oleh : Ns. Yuflihul Khair, S.Kep




Pengertian
Anemia aplastik adalah penyakit yang disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sum-sum tulang (kerusakan sumsum tulang) (Sylvia,2005).

Anemia aplastik adalah keadaan yang disebabkan berkurangnya sel hematopoetik dalam darah tepi seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit sebagai akibat terhentinya pembentukan sel hematopoetik dalam sumsum tulang (Arif,2005).

Penyebab
Penyebab hampir sebagian besar kasus anemia aplastik bersifat idiopatik dimana penyebabnya masih belum dapat dipastikan. Namun ada faktor-faktor yang diduga dapat memicu terjadinya penyakit anemia aplastik ini.
Faktor-faktor penyebab yang dimaksud antara lain
:
(1) Faktor kongenital : sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti mikrosefali, strabismus, anomaly jari, kelainan ginjal dan lain sebagainya.
(2) Faktor didapat  :
(a) Bahan kimia : benzena, insektisida, senyawa As,  (b) Obat :kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihistamin), santonin-kalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate, TEM, vincristine, rubidomycine dan sebagainya), obat anti tumor (nitrogen mustard), anti microbial. (c) Radiasi : sinar rontgen, radioaktif. (d) Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain-lain. (e) Infeksi : tuberculosismilier, hepatitis dan lain-lain. (f) Keganasan, penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan idiopatik (Mansjoer, 2005).

Tanda dan Gejala : (1) Lemah dan mudah lelah. (2) Granulositopenia dan leukositpenia menyebabkan lebih mudah terkena infeksi bakteri. (3) Trombositpenia menimbulkan perdarahanmukose dan kulit. (4) Pucat. (5) Pusing. (6) Anoreksia. (7) Takikardia. (8) Penurunan pengisian kapiler. (9) Sesak . (10) Demam. (11) Purpura. (12) Petekie. (13) Hepatosplenomegali. (13) Limfedenopati

Patofisiologi
Kegagalan sum-sum terjadi akibat kerusakan berat pada kompartemen sel hematopoetik. Suatu kerusakan instrinsik pada sel bakal terjadi pada anemia aplastik konstitusional : sel dari pasien dengan anemia fanconi mengalami kerusakan kromosom dan kematian pada paparan terhadap beberapa agen dan mutasi pada agen yang berperan dalam telomere (TERC dan TERT) dapat diidentifikasi pada beberapa orang dewasa dengan anomaly akibat kegegalan sum-sum dan tanpa anomaly secara fisik atau dengan riwayat keluarga dengan penyakit serupa. Kerusakan karena obat. Kerusakan ekstrinsik pada sum-sum terjadi setelah trauma radiasi dan kimiawi seperti dosis tinggi pada radiasi dan zat kimia toksik. Untuk reaksi idiosinkronasi yang paling sering pada dosis rendah obat, perubahan metabolism dari kebanyakan obat dan zat kimia, terutama jika bersifat polar dan  memiliki keterbatasan dalam daya larut dengan air, melibatkan degradasi enzimatik hingga menjadi komponen elektrifilik yang sangat reaktif (yang disebut intermediet), komponen ini bersifat toksik karena kecenderungannya untuk berikatan dengan makromolekul seluler. Pembentukan intermediet  metabolik yang berlebihan atau kegagalan dalam detoksifikasi komponen ini kemungkinan akan secara genetik menentukan namun perubahan genetis ini hanya terlihat pada beberapa obat.

Pemeriksaan Penunjang : (1) Biopsi sum-sum tulang : menentukan beratnya penurunan elemen sum-sum normal dan penggantian oleh lemak. Abnormalitas mungkin terjadi pada sel stem, prekusor granulosit, eritrosit dan trombosit. Akibatnya terjadi pansitopenia (defisiensi semua elemen sel darah). (2) Gambaran darah tepi : menunjukkan pansitopenia dan limfositosis relatif.

Penatalaksanaan Medis
Implikasi Keperawatan : (a) Pencegahan infeksi silang. (b) Instirahat untuk mencegah perdarahan, terutama perdarahan otak. (c) Pertahankan suhu tubuh dengan memberikan selimut dan mengatur suhu ruangan. (d)  Berikan dukungan emosional kepada klien. (e) Berikan pendidikan kesehatan yang dibutuhkan klien dan keluarga klien. Berikan informasi adekuat mengenai keadaaan, pengobatan dan kemajuan kesehatan klien serta bimbingan untuk perawatan dirumah.

Secara grafis besar terapi untuk anemia aplastik terdiri atas beberapa terapi sebagai berikut :
(1) Terapi Kausal : Terapi kausal adalah usaha untuk menghilangkan agen penyebab. Hindarkan pemaparan lebih lanjut terhadap agen penyebab yang tidak diketahui. Akan tetapi hal ini sulit dilakukan karena etiologinya tidak jelas atau penyebabnya tidak dapat dikoreksi.
(2) Terapi Suportif : Terapi suportif bermanfaat untuk mengatasi kelainan yang timbul akibat pansitopenia. Adapun bentuk terapinya sebagai berikut, : (a) Untuk mengatasi infeksi, Hygiene kulut.Identifikasi sumber infeksi serta pemberian antibiotic yang tepat dan adekuat, Tranfusi granulosit konsertat diberikan pada sepsis berat. (b) Usaha untuk mengatasi anemia : Berikan tranfusi Packed Red Cell (PRC) jika hemoglobin < 7 gr/ atau tanda payah jantung atau anemia yang sangat simptomatik. Koreksi Hb sebesar 9-10 gr % tidak perlu sampai normal karena akan menekan eritropoesis internal. (c) Usaha untuk mengatasi perdarahan. Berikan tranfusi konsertat trombosit jika terdapat perdarahan mayor atau trombosit < 20.000 mm3.

Terapi untuk memperbaiki sum-sum tulang
(1) Obat untuk merangsang fungsi sum-sum tulang : (a) Anabiotik sterod dapat diberikan oksimetolon atau stanal dengan dosis 2-3 mg/kgBB/hari. Efek fungsi terapi tampak setelah 6-8 minggu. Efek samping yang dialami berupa virilisasi dan gangguan fungsi hati. (b) Kortikosteroid dosis rendah sampai menengah.

(2) Terapi definitive : (a) Terapi definitif merupakan terapi yang dapat memberikan kesembuhan jangka panjang. (b) Terapi imonusupresif : Pemberian anti-lymphocyte globuline (ALG) atau anti-thymocyte globuline (ATG) dapat menekan proses imunologis. Terapi imonusupresif lain, yaitu pemberian metilprednison dosis tinggi. (c) Transplantasi sum-sum tulang  Transplantasi sum-sum tulang merupakan terapi definitif yang memberikan haraapan kesembuhan, tetapi biayanya mahal.

Pengkajian
(1) Anamnesa  : identitas klien, riwayat penyakit sekarang, pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari anemia yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologinya penyakit.
(2) Riwayat penyakit dahulu : pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab anemia aplastik, serta penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses penyembuhan.
(3) Riwayat penyakit keluarga : Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit anemia merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya anemia, sering terjadi pada bebarapa keturunan, dan anemia aplastik yang cenderung diturunkan secara genetic.
(4) Pemeriksaan fisik : Aktivitas / istirahat, Keletihan, kelemahan otot, malaise umum, kebutuhan untuk tidur dan istirahat banyak, takikardi, takipnea, dispnea pada saat beraktivitas atau istirahat, letargi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya, ataksia, tubuh tidak tegak, bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda-tanda lain yang menunjukkan keletihan
(5) Sirkulasi  : (a) Riwayat kehilangan darah kronis, missal : perdarahan GI. (b) Palpitasi (takikardi kompensasi) (c) Hipotensi postural (d) Distrimia : abnormalitas EKG misal, depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T. (d) Bunyi jantung murmur sistolik . (e) Ekstremitas : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjongtiva, mulu, faring, bibir) dan dasar kaku. (f) Sklera biru atau putih seperti mutiara. (g) Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonstriksi kompensasi). (h) Kuku mudah patah, berbentuk seperti sendok . (i) Rambut kering, mudah putus, menipis
(5) Integritas Ego : (a) Keyakinan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya tranfusi darah. (b) Depresi

(6) Eliminasi  : (a) Riwayat pielonefritis, gagal ginjal, (b) Flatulen, sindrom malabsorbsi. (c) Hematemisis, feses dengan darah segar, melena . (d) Diare atau konstipasi. (e) Penurunan haluaran urine. (Distensi abdomen
(7) Makanan/cairan : (a) Penurunan masukan diet. (b) Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring). (c) Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. (d) Adanya penurunan berat badan. (e) Membran mukosa kering, pucat. (f) Stomatitis. (g) Inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah

(8) Neurosensori : (a) Sakit perut, berdenyut pusing, vertigo, tinitus, ketidakmampuan berkonsentrasi, (b) Insomnia, penurunan penglihatan dan bayangan pada mata, (c) Kelemahan, keseimbangan buruk, parestisia tangan/kaki, (d)  Peka rangsang, gelisah, defresi, apatis, (e) Tidak mampu berespon lambat dan dangkal, (f) Hemoragis retina, (g) Epistaksis, (h) Gangguan koordinas, ataksia
(9) Nyeri/kenyamanan : Nyeri abdomen samar, sakit kepala
(10) Pernafasan : nafas pendek pada istirahat dan aktivitas, Takipnea, ortopnea dan dispnea
(11) Keamanan : riwayat terpajan terhadap bahan kimia, misal : benzene, insektisida, fenilbutazon, naftalena, tidak tolerin terhadap panas dan / atau dingin, tranfusi darah sebelumnya, gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi, demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenofati umum. Petekien dan ekimosis

Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
(1) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrient ke sel.
(2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
(3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan.

Intervensi Keperawatan

Perubahan perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrient ke sel.
(1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam anak menunjukkan perfusi yang adekuat
(2) Kriteria Hasil : (a) Tanda-tanda vital stabil, (b) Membran mukosa berwarna merah muda, (c) Pengisian kapiler, (d) Haluaran urine adekuat
(3) Intervensi :
(a) Ukur tanda-tanda vital, observasi pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku. R/ : Memberikan informasi tentang keadekuatan perfusi jaringan dan membantu kebutuhan intervensi.
(b) Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. R/ : Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan kontradiksi bila ada hipotensi.  
(c) Auskultasi bunyi nafas. R/ : Dispnea, gemericik menunjukkan CHF karena regangan jantung  lama/peningkatan kopensasi curah jantung.
(d) Observasi keluhan nyeri dada/palpitasi. R/ : Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial resiko ibnfark. Evaluasi respon verbal melambat, agitasi, gangguan memori, bingung. R/ : Dapat mengindikasikan gangguan perfusi serebral karena hipoksia.
(e) Evaluasi keluhan dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh supaya tetap hangat. R/: Vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer.
(f) Observasi hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap.                        R/ : Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respons terhadap   terapi.
(g) Berikan transfusi darah lengkap/packed sesuai indikasi. R/ meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen, memperbaiki defisiensi untuk mengurangi resiko perdarahan.
(h) Berikan oksigen sesuai indikasi. R/ memaksimalkan transpor oksigen ke jaringan.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
(1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam klien dapat mempertahankan / meningkatkan aktivitas.
(2) Kriteria hasil : (a) Tanda – tanda vital dalam batas normal. (b) Klien tidak menunjukkan tanda-tanda keletihan. (c) Klien dapat istirahat dengan tenang. (d) Klien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan
(3) Intervensi :
(a) Kaji kemampuan ADL klien. R/ : Mempengaruhi pilihan intervensi / bantuan.
(b) Ukur tanda – tanda vital. R/ : Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.
(c) Observasi adanya tanda – tanda keletihan (takikardia, palpitasi, dispnea, pusing, kunang – kunang, lemas, postur loyo, gerakan lambat dan tegang). R/ : Membantu menetukan intervensi yang tepat.
(g) Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising, pertahankan tirah baring bila diindikasikan.
(h) R/: Meningkatkan istirahat menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru.
(i) Anjurkan klien istirahat bila kelelahan dan anjurkan klien melakukan aktivitas semampunya. R/: Meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan.
(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
(2) Kriteria Hasil : (a) Asupan nutrisi adekuat. (b) Berat badan normal. (c) Nilai laboratorium dalam batas normal
(3) Intervensi :
(a) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai. R/ : Mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi.
(b) Observasi dan catat masukan makanan. R/ : Mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.
(c) Berikan makanan sedikit dan frekuensi sering. R/ : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan asupan nutrisi.
(d) Observasi dan catat kejadian mual / muntah, flatus. R/ : gejala GI menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.
(e) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk rencana diet. R/ : Membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual.
(f) Observasi pemeriksaan laboratorium : Hb, Ht, Eritrosit, Trombosit, Albumin. R/ : Mengetahui efektivitas program pengobatan, mengetahui sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.
(g) Berikan obat sesuai indikasi. R/ : Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanya masukan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Bakhshi.2009. Aplastic Anemia. http://www.emedicine.com
Bakta. 2006. Hematologi Klinik Ringkas. EGC: Jakarta
Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis Edisi 9. Jakarta : EGC
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2007 . Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. FKUI : Jakarta.
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC


KLIK DOWNLOAD DIBAWAH INI UNTUK MENDAPATKAN 
FILE LENGKAP DALAM BENTUK PDF
 http://adf.ly/1KB2rX


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ANEMIA APLASTIK

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN ANEMIA APLASTIK

Oleh : Ns. Yuflihul Khair, S.Kep




Pengertian
Anemia aplastik adalah penyakit yang disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sum-sum tulang (kerusakan sumsum tulang) (Sylvia,2005).

Anemia aplastik adalah keadaan yang disebabkan berkurangnya sel hematopoetik dalam darah tepi seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit sebagai akibat terhentinya pembentukan sel hematopoetik dalam sumsum tulang (Arif,2005).

Penyebab
Penyebab hampir sebagian besar kasus anemia aplastik bersifat idiopatik dimana penyebabnya masih belum dapat dipastikan. Namun ada faktor-faktor yang diduga dapat memicu terjadinya penyakit anemia aplastik ini.
Faktor-faktor penyebab yang dimaksud antara lain
:
(1) Faktor kongenital : sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti mikrosefali, strabismus, anomaly jari, kelainan ginjal dan lain sebagainya.
(2) Faktor didapat  :
(a) Bahan kimia : benzena, insektisida, senyawa As,  (b) Obat :kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihistamin), santonin-kalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate, TEM, vincristine, rubidomycine dan sebagainya), obat anti tumor (nitrogen mustard), anti microbial. (c) Radiasi : sinar rontgen, radioaktif. (d) Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain-lain. (e) Infeksi : tuberculosismilier, hepatitis dan lain-lain. (f) Keganasan, penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan idiopatik (Mansjoer, 2005).

Tanda dan Gejala : (1) Lemah dan mudah lelah. (2) Granulositopenia dan leukositpenia menyebabkan lebih mudah terkena infeksi bakteri. (3) Trombositpenia menimbulkan perdarahanmukose dan kulit. (4) Pucat. (5) Pusing. (6) Anoreksia. (7) Takikardia. (8) Penurunan pengisian kapiler. (9) Sesak . (10) Demam. (11) Purpura. (12) Petekie. (13) Hepatosplenomegali. (13) Limfedenopati

Patofisiologi
Kegagalan sum-sum terjadi akibat kerusakan berat pada kompartemen sel hematopoetik. Suatu kerusakan instrinsik pada sel bakal terjadi pada anemia aplastik konstitusional : sel dari pasien dengan anemia fanconi mengalami kerusakan kromosom dan kematian pada paparan terhadap beberapa agen dan mutasi pada agen yang berperan dalam telomere (TERC dan TERT) dapat diidentifikasi pada beberapa orang dewasa dengan anomaly akibat kegegalan sum-sum dan tanpa anomaly secara fisik atau dengan riwayat keluarga dengan penyakit serupa. Kerusakan karena obat. Kerusakan ekstrinsik pada sum-sum terjadi setelah trauma radiasi dan kimiawi seperti dosis tinggi pada radiasi dan zat kimia toksik. Untuk reaksi idiosinkronasi yang paling sering pada dosis rendah obat, perubahan metabolism dari kebanyakan obat dan zat kimia, terutama jika bersifat polar dan  memiliki keterbatasan dalam daya larut dengan air, melibatkan degradasi enzimatik hingga menjadi komponen elektrifilik yang sangat reaktif (yang disebut intermediet), komponen ini bersifat toksik karena kecenderungannya untuk berikatan dengan makromolekul seluler. Pembentukan intermediet  metabolik yang berlebihan atau kegagalan dalam detoksifikasi komponen ini kemungkinan akan secara genetik menentukan namun perubahan genetis ini hanya terlihat pada beberapa obat.

Pemeriksaan Penunjang : (1) Biopsi sum-sum tulang : menentukan beratnya penurunan elemen sum-sum normal dan penggantian oleh lemak. Abnormalitas mungkin terjadi pada sel stem, prekusor granulosit, eritrosit dan trombosit. Akibatnya terjadi pansitopenia (defisiensi semua elemen sel darah). (2) Gambaran darah tepi : menunjukkan pansitopenia dan limfositosis relatif.

Penatalaksanaan Medis
Implikasi Keperawatan : (a) Pencegahan infeksi silang. (b) Instirahat untuk mencegah perdarahan, terutama perdarahan otak. (c) Pertahankan suhu tubuh dengan memberikan selimut dan mengatur suhu ruangan. (d)  Berikan dukungan emosional kepada klien. (e) Berikan pendidikan kesehatan yang dibutuhkan klien dan keluarga klien. Berikan informasi adekuat mengenai keadaaan, pengobatan dan kemajuan kesehatan klien serta bimbingan untuk perawatan dirumah.

Secara grafis besar terapi untuk anemia aplastik terdiri atas beberapa terapi sebagai berikut :
(1) Terapi Kausal : Terapi kausal adalah usaha untuk menghilangkan agen penyebab. Hindarkan pemaparan lebih lanjut terhadap agen penyebab yang tidak diketahui. Akan tetapi hal ini sulit dilakukan karena etiologinya tidak jelas atau penyebabnya tidak dapat dikoreksi.
(2) Terapi Suportif : Terapi suportif bermanfaat untuk mengatasi kelainan yang timbul akibat pansitopenia. Adapun bentuk terapinya sebagai berikut, : (a) Untuk mengatasi infeksi, Hygiene kulut.Identifikasi sumber infeksi serta pemberian antibiotic yang tepat dan adekuat, Tranfusi granulosit konsertat diberikan pada sepsis berat. (b) Usaha untuk mengatasi anemia : Berikan tranfusi Packed Red Cell (PRC) jika hemoglobin < 7 gr/ atau tanda payah jantung atau anemia yang sangat simptomatik. Koreksi Hb sebesar 9-10 gr % tidak perlu sampai normal karena akan menekan eritropoesis internal. (c) Usaha untuk mengatasi perdarahan. Berikan tranfusi konsertat trombosit jika terdapat perdarahan mayor atau trombosit < 20.000 mm3.

Terapi untuk memperbaiki sum-sum tulang
(1) Obat untuk merangsang fungsi sum-sum tulang : (a) Anabiotik sterod dapat diberikan oksimetolon atau stanal dengan dosis 2-3 mg/kgBB/hari. Efek fungsi terapi tampak setelah 6-8 minggu. Efek samping yang dialami berupa virilisasi dan gangguan fungsi hati. (b) Kortikosteroid dosis rendah sampai menengah.

(2) Terapi definitive : (a) Terapi definitif merupakan terapi yang dapat memberikan kesembuhan jangka panjang. (b) Terapi imonusupresif : Pemberian anti-lymphocyte globuline (ALG) atau anti-thymocyte globuline (ATG) dapat menekan proses imunologis. Terapi imonusupresif lain, yaitu pemberian metilprednison dosis tinggi. (c) Transplantasi sum-sum tulang  Transplantasi sum-sum tulang merupakan terapi definitif yang memberikan haraapan kesembuhan, tetapi biayanya mahal.

Pengkajian
(1) Anamnesa  : identitas klien, riwayat penyakit sekarang, pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari anemia yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologinya penyakit.
(2) Riwayat penyakit dahulu : pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab anemia aplastik, serta penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses penyembuhan.
(3) Riwayat penyakit keluarga : Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit anemia merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya anemia, sering terjadi pada bebarapa keturunan, dan anemia aplastik yang cenderung diturunkan secara genetic.
(4) Pemeriksaan fisik : Aktivitas / istirahat, Keletihan, kelemahan otot, malaise umum, kebutuhan untuk tidur dan istirahat banyak, takikardi, takipnea, dispnea pada saat beraktivitas atau istirahat, letargi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya, ataksia, tubuh tidak tegak, bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda-tanda lain yang menunjukkan keletihan
(5) Sirkulasi  : (a) Riwayat kehilangan darah kronis, missal : perdarahan GI. (b) Palpitasi (takikardi kompensasi) (c) Hipotensi postural (d) Distrimia : abnormalitas EKG misal, depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T. (d) Bunyi jantung murmur sistolik . (e) Ekstremitas : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjongtiva, mulu, faring, bibir) dan dasar kaku. (f) Sklera biru atau putih seperti mutiara. (g) Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonstriksi kompensasi). (h) Kuku mudah patah, berbentuk seperti sendok . (i) Rambut kering, mudah putus, menipis
(5) Integritas Ego : (a) Keyakinan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya tranfusi darah. (b) Depresi

(6) Eliminasi  : (a) Riwayat pielonefritis, gagal ginjal, (b) Flatulen, sindrom malabsorbsi. (c) Hematemisis, feses dengan darah segar, melena . (d) Diare atau konstipasi. (e) Penurunan haluaran urine. (Distensi abdomen
(7) Makanan/cairan : (a) Penurunan masukan diet. (b) Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring). (c) Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. (d) Adanya penurunan berat badan. (e) Membran mukosa kering, pucat. (f) Stomatitis. (g) Inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah

(8) Neurosensori : (a) Sakit perut, berdenyut pusing, vertigo, tinitus, ketidakmampuan berkonsentrasi, (b) Insomnia, penurunan penglihatan dan bayangan pada mata, (c) Kelemahan, keseimbangan buruk, parestisia tangan/kaki, (d)  Peka rangsang, gelisah, defresi, apatis, (e) Tidak mampu berespon lambat dan dangkal, (f) Hemoragis retina, (g) Epistaksis, (h) Gangguan koordinas, ataksia
(9) Nyeri/kenyamanan : Nyeri abdomen samar, sakit kepala
(10) Pernafasan : nafas pendek pada istirahat dan aktivitas, Takipnea, ortopnea dan dispnea
(11) Keamanan : riwayat terpajan terhadap bahan kimia, misal : benzene, insektisida, fenilbutazon, naftalena, tidak tolerin terhadap panas dan / atau dingin, tranfusi darah sebelumnya, gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi, demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenofati umum. Petekien dan ekimosis

Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
(1) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrient ke sel.
(2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
(3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan.

Intervensi Keperawatan

Perubahan perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrient ke sel.
(1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam anak menunjukkan perfusi yang adekuat
(2) Kriteria Hasil : (a) Tanda-tanda vital stabil, (b) Membran mukosa berwarna merah muda, (c) Pengisian kapiler, (d) Haluaran urine adekuat
(3) Intervensi :
(a) Ukur tanda-tanda vital, observasi pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku. R/ : Memberikan informasi tentang keadekuatan perfusi jaringan dan membantu kebutuhan intervensi.
(b) Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. R/ : Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan kontradiksi bila ada hipotensi.  
(c) Auskultasi bunyi nafas. R/ : Dispnea, gemericik menunjukkan CHF karena regangan jantung  lama/peningkatan kopensasi curah jantung.
(d) Observasi keluhan nyeri dada/palpitasi. R/ : Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial resiko ibnfark. Evaluasi respon verbal melambat, agitasi, gangguan memori, bingung. R/ : Dapat mengindikasikan gangguan perfusi serebral karena hipoksia.
(e) Evaluasi keluhan dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh supaya tetap hangat. R/: Vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer.
(f) Observasi hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap.                        R/ : Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respons terhadap   terapi.
(g) Berikan transfusi darah lengkap/packed sesuai indikasi. R/ meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen, memperbaiki defisiensi untuk mengurangi resiko perdarahan.
(h) Berikan oksigen sesuai indikasi. R/ memaksimalkan transpor oksigen ke jaringan.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
(1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam klien dapat mempertahankan / meningkatkan aktivitas.
(2) Kriteria hasil : (a) Tanda – tanda vital dalam batas normal. (b) Klien tidak menunjukkan tanda-tanda keletihan. (c) Klien dapat istirahat dengan tenang. (d) Klien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan
(3) Intervensi :
(a) Kaji kemampuan ADL klien. R/ : Mempengaruhi pilihan intervensi / bantuan.
(b) Ukur tanda – tanda vital. R/ : Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.
(c) Observasi adanya tanda – tanda keletihan (takikardia, palpitasi, dispnea, pusing, kunang – kunang, lemas, postur loyo, gerakan lambat dan tegang). R/ : Membantu menetukan intervensi yang tepat.
(g) Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising, pertahankan tirah baring bila diindikasikan.
(h) R/: Meningkatkan istirahat menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru.
(i) Anjurkan klien istirahat bila kelelahan dan anjurkan klien melakukan aktivitas semampunya. R/: Meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan.
(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
(2) Kriteria Hasil : (a) Asupan nutrisi adekuat. (b) Berat badan normal. (c) Nilai laboratorium dalam batas normal
(3) Intervensi :
(a) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai. R/ : Mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi.
(b) Observasi dan catat masukan makanan. R/ : Mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.
(c) Berikan makanan sedikit dan frekuensi sering. R/ : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan asupan nutrisi.
(d) Observasi dan catat kejadian mual / muntah, flatus. R/ : gejala GI menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.
(e) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk rencana diet. R/ : Membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual.
(f) Observasi pemeriksaan laboratorium : Hb, Ht, Eritrosit, Trombosit, Albumin. R/ : Mengetahui efektivitas program pengobatan, mengetahui sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.
(g) Berikan obat sesuai indikasi. R/ : Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanya masukan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Bakhshi.2009. Aplastic Anemia. http://www.emedicine.com
Bakta. 2006. Hematologi Klinik Ringkas. EGC: Jakarta
Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis Edisi 9. Jakarta : EGC
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2007 . Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. FKUI : Jakarta.
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC


KLIK DOWNLOAD DIBAWAH INI UNTUK MENDAPATKAN 
FILE LENGKAP DALAM BENTUK PDF
 http://adf.ly/1KB2rX


Popular Posts