Tuesday, 30 June 2015

PERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KESADARAN

PERAWATAN PADA PASIEN DENGAN 
GANGGUAN KESADARAN

Oleh : Ns. Yuflihul Khair, S.Kep




Pengertian
Kesadaran adalah pengetahuan penuh atas diri, lokasi dan waktu ( Corwin, 2001).  Penurunan kesadaran adalah keadaan dimana penderita tidak sadar dalam arti tidak terjaga /tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal terhadap stimulus. Kesadaran secara sederhana dapat dikatakan sebagai keadaan dimana seseorang mengenal /mengetahui tentang dirinya maupun lingkungannya (Padmosantjojo, 2000).

Dalam menilai penurunan kesadaran dikenal beberapa istilah yaitu :
(1) Kompos menitis : Kompos mentis adalah kesadaran normal, menyadari seluruh asupan dari panca indra dan bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsangan baik dari luar maupun dalam.   GCS Skor 14-15
(2) Somnelen / drowsiness / clouding of consciousness : Mata cenderung menutup, mengantuk, masih dapat dibangunkan dengan perintah, masih dapat menjawab pertanyaan walau sedikit bingung, tampak gelisah dan orientasi terhadap sekitarnya menurun. Skor 11-12 : somnolent.
(3) Stupor / Sopor : Mata tertutup dengan rangsang nyeri atau suara keras baru membuka mata atau bersuara satu dua kata . Motorik hanya berupa gerakan mengelak terhadap rangsang nyeri. Skor 8-10 : stupor.
(4) Soporokoma / Semikoma : Mata tetap tertutup walaupun dirangsang nyeri secara kuat, hanya dapat mengerang tanpa arti, motorik hanya gerakan primitif.
(5) Koma : Dengan rangsang apapun tidak ada reaksi sama sekali, baik dalam hal membuka mata, bicara maupun reaksi motorik. . Skor < 5 : koma

Tujuan  : (1) Mempertahankan kebersihan diri ( personal hygene ). (2) Mempertahankan pemenuhan kebutuhan nutrisi. (3) Mempertahankan rasa nyaman.

Indikasi  : Pada pasien dengan penurunan kesadaran

Kontra Indikasi : Tidak ada kontra indikasi

Klasifikasi Perawatan Pasien Koma Dengan GCS < 5 : (1) Merawat rambut. (2) Merawat gigi dan mulut, (3) Merawat kuku, (4) Memandikan pasien


Persiapan Pasien : (1) Memberi salam, (2) Mengenalkan diri pada klien atau keluarga, (3) Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan, (3) Menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan, (4) Posisikan pasien sesuai kebutuhan

Persiapan Lingkungan : (1) Pasang sampiran atau sketsel, (2) Pintu dan jendela dalam keadaan tertutup

Persiapan Peralatan Dan Prosedur Kerja
Merawat rambut
(1) Alat dan bahan : (a) Handuk secukupnya, (b) Perlak atau pengalas., (c) Baskom berisi air hangat, (d) Sampo atau sabun dalam tempatnya., (d) Kasa dan kapas, (e) Sisir. (f) BengkokGayung. (g) Ember kosong
(2) Prosedur Kerja : (1) Jelaskan prosedur pada pasien. (2) Cuci tangan. (3) Tutup jendela atau pasang sampiran. (4) Atur posisi pasien setengah duduk atau tidur. (5) Setelah posisi tidur lalu letakkan perlak/pengals di bawah kepala pasien dan perlak/pengalas diarahkan ke bawah dengan digulung bagian tepi menuju tempat penampungan ( baskom ). (5) Letakkan baskom di bawah tempat tidur tepat di bawah kepala pasien. (6) Tutup telinga dengan kapas. (7) Tutup dada dengan handuk sampai ke leher. (8) Kemudian sisir rambut dan lakukan pencucian dengan air hangat selanjutnya menggunakan sampo dan bilas dengan air hangat sambil di pijat. (9) Setelah selasai keringkan rambut dan sisir. (10) Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

Merawat Gigi Dan Mulut
(1) Alat Dan Bahan : (a) Handuk dan kain pengalas, (b) Gelas kumur berisi, (c) Air masak NaCL, (d) Obat kumur, (e) Borax gliserin. (f) Spatel lidah yang telah dibungkus dengan kain kasa. (g) Kapas lidi. (h) Bengkok, (i) Kain kasa, (j) Pinset atau arteri klem, (k) Sikat gigi dan pasta gigi.
(2) Prosedur kerja  : (a) Jelaskan prosedur pada pasien. (b) Cuci tangan. (c) Atur posisi dengan posisi tidur miring kanan/kiri. (d) Pasang handuk di bawah dagu/pipi pasien. (e) Ambil pinset dan bungkus denagn kain kasa yang di basahi air hangat / masak. (f) Gunakan tong spatel ( sudip lidah ) untuk membuka mulut pada saat membersihkan gigi/mulut. (g) Lakukan pembersihan di mulai dari dinding rongga mulut,gusi,dan lidah. (i) Keringkan dengan kasa steril yang kering. (j) Setelah bersih, oleskan borax gliserin. (k) Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

Merawat Kuku
(1) Alat dan Bahan : (a) Alat pemotong kuku, (b) Handuk, (c) Baskom berisi air hangat, (d) Bengkok, (e) Sabun, (f) Kapas, (g) Sikat kuku
(2) Prosedur Kerja : (a) Jelaskan prosedur pada pasien, (b) Cuci tangan, (c) Atur pasien posisi tidur. (d) Tentukan kuku yang akan di potong. (f) Rendam kuku dalam air hangat ±2 menit dan sikat dengan air sabun bila kotor. (g) Keringkan tangan dan kaki dengan handuk. (i) Letakkan tangan diatas bengkok dan lakukan pemotong kuku. (j) Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

Memandikan Pasien
(1) Alat Dan Bahan : (a) Baskom mandi dua buah yang berisikan air dingin dan air hangat. (b) Pakaian pengganti. (c) Kain penutup. (d) Handuk dan waslap. (e) Tempat untuk pakaian kotor. (f) Skrin (sampiran). (g) Sabun
(2) Prosedur Kerja : (a) Jelaskan prosedur pada pasien, (b) Cuci tangan, (c) Atur posisi pasien menjadi posisi tidur telentang/setengah duduk. (d) Bentangkan handuk di bawah kepala dan bersihkan wajah,telinga,dan leher dengan air hangat/sabun dengan waslap lalu keringkan dengan handuk. (e) Kain penutup ( pakaian ) diturunkan,bentangkan handuk di atas dada pasien dan kedua tangan ada di atas handuk tersebut. Basahi kedua tangan dengan air bersih dan bersihkan dengan menggunakan sabun dan bilas dengan air hangat lalu keringkan dengan handuk. (f) Setelah kedua tangan atas, handuk dipindahkan ke sisi pasien dan bersihkan daerah dada dan perut dengan sabun. Bilas dengan air hangat lalu keringkan dengan handuk. (g) Kemudian pasien dimiringkan ke kiri. Handuk dibentangkan di bawah punggung sampai glutea. Lalu basahi punggung dengan sabun dan air hangat hingga glutea. Keringkan punggung dengan handuk kemudian miring ke kanan. Setelah itu pasien kembali ke posisi telentang dan pakaian atas di pasangkan dengan rapi. (h) Letakkan handuk dibawah lutut dan kemudian lutut dibersihkan dengan sabun dan air hangat. Kaki yang paling jauh didahulukan dan dikeringkan dengan handuk. (i) Ambil handuk dan letakkan dibawah glutea. Pakaian bawah perut di buka lalu di bersihkan dengan sabun dan air hangat pada daerah lipatan paha dan genetalia. Setelah selesai, semua dirapikan. (j) Cuci Tanang setelah prosedur dilakukan.


  Klik Tombol Download Dibawah Ini Untuk 
Mendownload Filenya :






Saturday, 27 June 2015

LAPORAN PENDAHULUANA ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERIKARDITIS

LAPORAN PENDAHULUANA
ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERIKARDITIS


Oleh : Ns. Yuflihul Khair, S.Kep



A.   Definisi
Perikarditis ialah peradangan pericardium viseralis dan parietalis dengan atau tanpa disertai timbulnya cairan dalam rongga perikard yang baik bersifat transudat atau eksudat maupun seraosanguinis atau purulen dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab. (IKA FKUI, 2007).

Perikarditis adalah peradangan pericardium parietal, pericardium visceral, atau keduanya. Perikarditis  dibagi atas perikarditis akut, subakut, dan kronik. Perikarditis subakut dan kronik mempunyai etiologi, manifestasi klinis, pendekatan diagnostic, dan penatalaksanaan yang sama. (Arif, 2009)

B.   Etiologi
Penyebab yang paling sering ialah reuma, yang merupakan 55% dari seluruh kasus. Perikarditis purulenta/ septic (28%) disebabkan oleh kuman Staphylococcus aureus, Diplococcus pneumoniae, dan Streptococcus hemolyticus. Penyebab lainnya ialah tuberculosis, virus Coxsackie, rheumatoid, uremia, trauma dan idiopatik.

C.   Manifestasi Klinis
 Nyeri, batuk kering, demam, fatigue, cemas, ulsus paradoksus, JVD, CRT turun, gangguan status mental, kreatinin meningkat, cardiac marker meningkat, kardiak marker meningkat, ST segmen elevasi, PR depresi kecuali segmen aVR. Manifestasi perikarditis konstriktif sangat bervariasi bergantung pada berat, distribusi, dan kecepatan terjadinya sikatriks. Tanda-tanda perikarditis konstriktif menurut urutan, yaitu dispnea, edema perifer, pembesaran perut, gangguan abdominal, lelah, ortopnea, palpitasi, batuk, nausea, dan paroxysmal nocturnal dyspnea.

Sebagian penderita (60%) mengeluh nyeri dada. Sesuai dengan banyaknya cairan yang terkumpul dalam rongga perikard, maka dapat menimbulkan gangguan hemodinamika dan akan timbul keluhan sesak nafas dan gejala bendungan vena. Bila disertai dengan miokarditis (pankarditis) seperti yang sering ditemukan pada perikarditis reumatik, terdapat pula gambaran gagal jantung kongestif. Kriteria nyeri pada perikarditis akut dan tajam, berkurang dengan perubahan posisi. Pada pemeriksaan fisis didapatkan seorang anak yang tampak sakit berat, dispnea, takikardi dan terdapat palsus paradoksus yaitu melemahnya tau hilangnya nadi pada inspirasi yang lebih nyata tampak pada pengukuran tekanan darah.

Bila sudah ada bendungan vena, akan terlihat peninggian tekanan vena jugularis dan pembesaran hepar yang sukar dibedakan dengan gagal jantung kongestif. Pada inspeksi iktus kordis tidak terlihat dan pada palpasi juga iktus kordis sukar ditentukan serta aktivitas jantung berkurang.

Nursing Pathway : Klik Disini

D.   Pemeriksaan Diagnostik

     Pemeriksaan Elektrokardiografi 
Elektrokardiografi memperlihatkan elevasi segmen ST dan perubahan resiprokal, voltase QRS yang rendah (low voltage) tapi EKG bisa juga normal atau hanya terdapat gangguan irama berupa fibrilasi atrium. Pemeriksaan ekokardiografi M-Mode atau dua dimensi sangat baik untuk memastikan adanya efusi pericardium dan memperkirakan banyaknya cairan pericardium. Pada fase akut, akan tampak elevasi segmen S-T yang berbentuk konkaf terutama pada antar pericardium kiri. Mula-mula T masih normal, kemudian menjadi datar/ negative. Kelainan T lebih lama menetap, yaitu sampai 2-3 minggu, bahkan kadang-kadang berbulan-bulan seperti pada perikarditis tuberkulosa. Amplitude QRS dan T akan mengecil (low voltage) sesuai dengan jumlah cairan yang ada.
     
     Pemeriksaan Radiologis
Foto rontgen toraks bila efusi pericardium hanya sedikit, tetapi tetap tampak bayangan jantung membesar seperti water bottle dengan vaskularisasi paru normal dan adanya efusi pericardium yang banyak. Pada efusi pericardium, gambaran Rontgen toraks memperlihatkan suatu konfigurasi bayangan jantung berbentuk buli-buli air tapi dapat juga normal atau hamper normal. Pada posisi berdiri atau duduk, maka akan tampak pembesaran jantung yang berbentuk segitiga dan akan berubah bentuk menjadi globular pada posisi tiduran. Kadang-kadang tampak gambaran bendungan pembuluh darah vena. Pada fluoroskopi tampak jantung yang membesar dengan pulsasi yang minimal atau tidak tampak pulsasi sama sekali (silent heart). Jumlah cairan yang ada dan besar jantung yang sebenarnya dapat diduga dengan angiokardiogram atau ekokardiogram.
     Pemeriksaan Laboratorium
Laju endap darah umumnya meninggi terutama pada fase akut. Terdapat pula leukositosis yang sesuai dengan kuman penyebab. Cairan perikard yang ditemukan dapat bersifat transudat seperti perikarditis rheumatoid, reumatik, uremik, eksudat serosanguinous dapat ditemukan pada perikarditis tuberkulosa dan reumatika. Cairan yang purulen ditemukan pada infeksi banal. Terhadap cairan perikard ini, harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis terhadap jenis sel yang ditemukan, pemeriksaan kimia terhadap komposisi protein yang ada dan pemeriksaan bakteriologis dengan sediaan langsung, pembiakan kuman atau dengan percobaan binatang yang ditujukan terhadap pemeriksaan basil tahan asam maupun kuman-kuman lainnya.

E.   Penatalaksanaan Medis
Pengobatan penyakit dasar merupakan tujuan utama, tetapi beberapa kronis idiopatik dapat diobati dengan menggunakan indometasin atau kortikosol. Bila efusi pericardium kronis tetap menimbulkan gejala keluhan, maka perlu dipertimbangkan perikardiektomi. Bila diagnosis perikarditis konstriktif telah dibuat, maka perikardiektomi merupakan satu-satunya pengobatan untuk menghilangkan tahanan pengisian ventrikel pada fase diastolic.

Penatalaksanaan pada efusi pericardium yang massif adalah dengan melakukan perikardisentesis ke dalam kantong pericardium dengan tujuan agar proses drainase dari aspirasi dapat adekuat. (Rubin, 1990). Penatalaksanaan tamponade jantung dengan pengobatan yang sesegera mungkin dapat menyelamatkan klien dari kematian, maka pemeriksaan yang cepat dan tepat untuk menegakkan diagnosis secara tepat, misalnya pemeriksaan ekokardiografi yang diikuti pemeriksaan kateterisasi jantung, harus dilaksanakan. Tamponade jantung memerlukan aspirasi pericardium dengan jarum. Monitor EKG memerlukan perhatian dan kecurigaan yang lebih cermat, karena dalam banyak hal, tidak ada penyebab yang jelas terlihat yang menyatakan adanya penyakit pericardium. Pada klien dengan hipotensi dan evaluasi tekanan darah jugularis, dengan lekuk x yang menonjol, bahkan tanpa adanya lekuk y,  kemungkinan adanya tamponade jantung harus diperhatikan.

Tamponade jantung harus dicapai bila terdapat perluasan daerah perkusi yang redup di daerah dada anterior, nadi paradoksal, gambaran paru yang cukup bersih, pulsasi bayangan jantung yang berkurang pada fluoroskopi, pengurangan amplitude QRS, gangguan listrik dari P, QRS, dan T, serta hal-hal tersebut di awal. Pada tamponade jantung dengan tekanan yang rendah, klien biasanya tanpa gejala, atau mengeluh sesak dan kelemahan badab yang ringan, dan dalam hal ini diagnosis ditegakkan dengan ekokardiografi. Kelainan hemodinamikdan gejala klinis segera membaik setelah dilakukan perikardiosentesis.

Perikardiosentesis merupakan tindakan aspirasi efusi pericardium atau pungsi pericardium. Pungsi pericardium dapat dilakukan untuk konfirmasi dan mencari etiologi efusi sebagai penegakan diagnosis dan tindakan invasive untuk pengobatan. Sudut antara prosesus xifoideus dengan arkus iga kiri. Titik ini paling aman karena jantung tidak ditutupi paru sehingga mengurangi kemungkinan penyebaran infeksi ke paru atau perikarditis purulen. Hal ini juga untuk menghindari tertusuknya arteri mamaria interna. Lokasi efusi pericardium umumnya berada di bawah, sehingga cairan yang sedikit pun dapat diperoleh di sini. Peran perawat dalam pelaksanaan perikardiosentesis adalah mempersiapkan klien sebelum dan sesudah tindakan, dukungan psikologis, dan persiapan alat tindakan.

F.    Komplikasi 
1   Tamponade jantung
Tamponade jantung adalah keadaan yang mengancam nyawa, dimana ditemukan penekanan pada jantung, akibat terjadi pengumpulan cairan (darah, nanah) atau gas di ruangan perikardium (ruangan antara 2 selaput pelapis jantung) yang disebabkan karena trauma atau robeknya otot jantung, atau karena perembesan cairan (efusi). Hal ini dapat menyebabkan jantung tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh secara optimal.
2   Aritmi jantung
Contoh-contoh dari atrial tachycardias termasuk atrial fibrillation, atrial flutter, and paroxysmal atrial tachycardia (PAT). Aritmia-aritmia ini terjadi karena gangguan listrik di atria dan/atau di AV node menyebabkan denyut jantung yang cepat.
3    Nyeri dada berulang-ulang.

G.   Prognosis
Bergantung kepada penyebabnya. Pada perikarditis reumatik ditentukan oleh berat ringannya miokarditis yang menyertainya. Prognosis perikarditis purulenta ditentukan oleh cepatnya pengobatan antibiotika yang diberikan dan tindakan  bedah yang dilakukan. Kematian pada perikarditis tuberkulosa menjadi sangat menurun dengan ditemukannya tuberkulostatikum yang lebih poten. Tanpa tindakan pembedahan perikarditis konstriktiva mempunyai prognosis yang buruk. 

H.   Patofisiologi
Proses inflamasi dan akibat sekunder dari fenomena infeksi pada perikarditis akan memberikan respons sebagai berikut:
  1. Terjadinya vasodilatasi dengan peningkatan akumulasi cairan ke kantong perikardium.
  2. Peningkatan permeabilitas vaskular sehingga kandungan protein, termasuk fibrinogen atau fibrin, di dalam cairan akan meningkat.
  3. Peningkatan perpindahan leukosit terutama pada perikarditis purulenta.
  4. Perdarahan akibat trauma tembus juga merupakan penyebab yang mungkin.
Perubahan patologis selanjutnya yang terjadi berupa terbentuknya jaringan parut dan perlengketan disertai klasifikasi lapisan perikardium viseral maupun parietal yang menimbulkan suatu perikarditis konstriktif yang apabila cukup berat akan menghambat pengembangan volume jantung pada fase diastolik. Pada kondisi lain, terakumulasinya cairan pada perikardium yang sekresinya melebihi absorpsi menyebabkan suatu efusi perikardium. Pengumpulan cairan intraperikardium dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan obstruksi serius terhadap masuknya darah ke kedua bilik jantung bisa menimbulkan tamponade jantung. Salah satu komplikasi perikarditis paling fatal dan memerlukan tindakan darurat tamponade. Tamponade jantung merupakan akibat peninggian tekanan intraperikardium dan restriksi progresif pengisian ventrikel.

I.    Tamponade Jantung
Penyebab tamponade paling sering adalah perdarahan ke dalam rongga perikardium setelah suatu operasi jantung atau trauma, termasuk yang diakibatkan oleh perforansi selama prosedur diagnostik: TBC dan tumor, yang kebanyakan adalah karsinoma paru dan payudara, serta limfoma. Tamponade juga dapat timbul pada perikarditis idiopatik dan perikarditis akut oleh karena virus, perikarditis pasca-penyinaran, gagal ginjal selama dialisis, dan hemoperikardium sebagai akibat pengobatan antikoagulan pada klien dengan berbagai bentuk perikarditis akut.

Jumlah cairan yang cukup untuk menimbulkan tamponade jantung adalah 250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung cepat, dan 1000 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat, karena perikardium mempunyai kesempatan untuk meregang dan menyesuaikan diri dengan volume cairan yang bertambah tersebut. Jumlah cairan yang dibutuhkan untuk menghasilkan tamponade bervariasi tergantung dari tebalnya miokardium ventrikel, dan kebalikannya dengan tebalnya perikardium parietal. Lebih sering terjadi adalah tamponade berlangsung lebih perlahan dan gejala klinisnya menyerupai gagal jantung, termasuk dispnea, ortopnea, bendungan hati, dan hipertensi vena jugularis.

J.    Pengkajian
         Anamnesa
1)   Identitas pasien.
2)   Keluhan utama: Nyeri dada atau sesak nafa
3)   Riwayat penyakit sekarang : harus ditanya dengan jelas tetang gejala yang timbul seperti edema perifer, gangguan abdominal, lelah, ortopnea, palpitasi, batuk, nausea, dan paroxysmal nocturnal dyspnea . Kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk, bagaimana sifat timbulnya, dan stimulus apa yang sering menimbulkan nyeri dada.
4)   Riwayat penyakit dahulu : harus diketahui apakah pasien pernah terkena TBC, rheumatoid, uremia, ada trauma dada atau pernah mengalami serangan jantung lainnya.
5) Riwayat  psikososial : respon emosi pengkajian mekanisme koping yang digunakan pasien juga penting untuk menilai pasien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran pasien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
          Pemeriksaan fisik
1)   B1 : Breathing (Respiratory System) : sesak nafas, takipnea, suara nafas ronkhi, batuk (+)
2)   B2 : Blood (Cardiovascular system) : takikardi, penurunan TD, aritmia jantung.
3)   B3 : Brain (Nervous system) : Normal
4)   B4 : Bladder (Genitourinary system) : penurunan frekuensi / jumlah urine, urine pekat gelap.
5)   B5 : Bowel (Gastrointestinal System) : Anorexia, muntah, mual, kekurangan nutrisi.
6)   B6 : Bone (Bone-Muscle-Integument) : Lemah dan nyeri pada daerah ekstremitas.
       Diagnosa Keperawatan
1.    Nyeri berhubungan dengan efusi perikardium
2.    Penurunan Curah jantung berhubungan dengan kompresi perikardial
3.    Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan curah jantung menurun
4.    Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan fisik
5.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan akumulasi cairan di pericardium

       Intervensi
1)   Nyeri berhubungan dengan efusi di pericardium
a)    Tujuan : dalam 1x24 jam skala nyeri <2
b)   Kriteria Hasil   : 
·       CRT < 3 detik
·       TD normal
·       Aritmia jantung (-)
·       Penurunan curah jantung teratasi
Intervensi
Rasional
Kolaborasi
Berikan oksigen suplemen sesuai indikasi

Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk menurunkan beban kerja jantung dan menurunkan ketidaknyamanan berhungan dengan iskemia.
Mandiri
Palpasi nadi perifer
Mengontrol penurunan curah jantung
Istirahatkan klien dengan tirah baring optimal
Menurunkan kebutuhan pemompaan jantung
Observasi adanya hipotensi, peningkatan JVP, perubahan suara jantung, penuruna tingkat kesadaran.
Manifestasi klinis pada kardiak tamponade yang mungkin terjadi pada perikarditis ketika akumulasi cairan eksudat pada rongga perikardial.
Pantau perubahan pada sensorik
Menunjukkan tidak adekuatnya perfusi serebral sebagai dampak sekunder terhadap penuruna curah jantung
Kolaborasi
Pemberian diet  jantung
Pembatasan natrium untuk mencegah, mengatur, atau mengurangi edema
Pemberian vasodilator
Meningkatkan curah jantung, menurunkan volume sirkulasi dan tahanan vaskular sistemik, juga kerja ventrikel


          2) Penurunan curah jantung berhubungan dengan kompresi pericardial
a)    Tujuan : dalam 3x24 jam penurunan curah jantung teratasi
b)   Kriteria Hasil   : 
·         CRT < 3 detik
·         Pengeluaran urine adekuat
·         TD normal
·         Aritmia jantung (-)
Intervensi
Rasional
Mandiri
Palpasi nadi perifer
Mengontrol penurunan curah jantung
Pantau output urine
Mengetahui respon ginjal dalam menurunkan curah jantung
Istirahatkan klien dengan tirah baring optimal
Menurunkan kebutuhan pemompaan jantung
Observasi adanya hipotensi, peningkatan JVP, perubahan suara jantung, penuruna tingkat kesadaran
Manifestasi klinis pada kardiak tamponade yang mungkin terjadi pada perikarditis ketika akumulasi cairan eksudat pada rongga perikardial.
Kaji perubahan pada sensorik
Menunjukkan tidak adekuatnya perfusi serebralk sebagai dampak sekunder terhadap penuruna curah jantung
Kolaborasi
Pemberian diet  jantung
 Pembatasan natrium untuk mencegah, mengatur, atau mengurangi edema
Pemberian vasodilator
Meningkatkan curah jantung, menurunkan volume sirkulasi dan tahanan vaskular sistemik, juga kerja ventrikel
  

3)   Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan proses penyakit.
a)    Tujuan : Perfusi jaringan kembali normal
b) Kriteria hasil: Mempertahankan atau mendemonstrasikan perfusi jaringan adekuat secara individual misalnya mental normal, tanda vital stabil, kulit hangat dan kering, nadi perifer`ada atau kuat, masukan/ haluaran seimbang.
Intervensi
Rasional
Mandiri
1.    Evaluasi status mental. Perhatikan terjadinya hemiparalisis, afasia, kejang, muntah, peningkatan TD.
2.  Selidiki nyeri dada, dispnea tiba-tiba yang disertai dengan takipnea, nyeri pleuritik, sianosis, pucat.
3. Tingkatkan tirah baring dengan tepat.




4.  Dorong latihan aktif/ bantu dengan rentang gerak sesuai toleransi.

1. Indikator yang menunjukkan embolisasi sistemik pada otak.

2. Emboli arteri, mempengaruhi jantung dan / atau organ vital lain, dapat terjadi sebagai akibat dari penyakit katup, dan/ atau disritmia kronis
3.   Dapat mencegah pembentukan atau migrasi emboli pada pasien endokarditis. Tirah baring lama, membawa resikonya sendiri tentang terjadinya fenomena tromboembolic.
4.    Meningkatkan sirkulasi perifer dan aliran balik vena karenanya menurunkan resiko pembentukan thrombus.
Kolaborasi
Berikan antikoagulan, contoh heparin, warfarin (coumadin)

Heparin dapat digunakan secara profilaksis bila pasien memerlukan tirah baring lama, mengalami sepsis atau GJK, dan/atau sebelum/sesudah bedah penggantian katup.
Catatan : Heparin kontraindikasi pada perikarditis dan tamponade jantung. Coumadin adalah obat pilihan untuk terapi setelah penggantian katup jangka panjang, atau adanya thrombus perifer.

.
          4) Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan dan keletihan fisik
a)    Tujuan : meningkatkan kemampuan beraktifitas
b)   Kriteria Hasil   : 
·         Klien mampu bermobilisasi di tempat tidur
·         Aktivitas sehari – hari klien terpenuhi
Intervensi
Rasional
Tingkatkan istirahat dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat
Mengurangi kebutuhan oksigen
Anjurkan menghindari tekanan abdomen, seperti mengejan saat defekasi
Dengan mengejan dapat mengakibatkan bradikardi, menurunkan curah jantung dan takikardi, serta peningkatan TD
Tingkatkan klien duduk di kursi dan tinggikan kaki klien
Untuk meningkatkan vena balik
Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit krisis
Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu vena balik
Bantu mobilisasi pasien
Mencegah dekubitus


     5)  Resiko tinggi infeksi b.d akumulasi bakteri di pericardium
a)    Tujuan : Tidak terjadi infeksi
b)   Kriteria Hasil :
·         Akumulasi cairan (-)
·         Tanda-tanda infeksi (-)
Intervensi
Rasional
Mandiri
Pantau suhu pasien
 Suhu pasien merupakan tanda-tanda terjadinya infeksi
Kolaborasi
Lakukan tindakan perikardiosentesis
 Perikardiosentesis merupakan tindakan aspirasi efusi
Kolaborasi
Lakukan tindakan pungsi perikardium
 Pungsi perikardium untuk konfirmasi dan mencari etiologi efusi sebagai penegakan diagnosis


DAFTAR PUSTAKA

Carpentino, Lynda Juall.2001.Buku Saku : Diagnosa keperawatan edisi : 8 Penterjemah Monica Ester.EGC.Jakarta

Doengoes, E Marlynn,dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3 penterjemah Monica Ester.EGC.Jakarta


Sudoyo, Aru W. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi IV. Penerbit Ilmu Penyakit Dalam: Jakarta.


Klik Tombol Download Dibawah Ini Untuk 
Mendownload Filenya :



Popular Posts