EBOOK'S YUFLIHUL KHAIR. MEDIA INFORMASI SEPUTAR KESEHATAN KHUSUSNYA KEPERAWATAN
Selamat Datang di Ebook's Yuflihul Khair. Blog Ini Berisi Tentang Materi Seputar Kesehatan Khususnya Keperawatan. Bagi Anda Yang Tertarik Dengan Isi Blog Silahkan Anda Bisa Langsung Download Filenya di Blog Ini. Penulis Ns. Yuflihul Khair, S.Kep. Alamat Email : yuflihul@gmail.com

Saturday, 30 August 2014

INTISARI
SKRIPSI

EFEKTIFITAS TEHNIK MASASE PUNGGUNG TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH KELAYAN  HIPERTENSI DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA “PUSPAKARMA” MATARAM


I KETUT SUASTANA
06.01.0365

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN     
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN MATARAM
2010


LATAR BELAKANG :
Tingginya angka kejadian hipertensi pada lanjut usia, tentunya menjadi sangat penting dan harus mendapat perhatian dari semua pihak mengingat akibat yang dapat ditimbulkannya. Penanganan yang bersifat farmakologi maupun nonfarmakologi sangat dibutuhkan untuk mengurangi prevalensi penyakit ini. Penanganan secara nonfarmakologi berupa masase punggung dengan usapan perlahan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menurunkan tekanan darah penderita hipertensi usia lanjut. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas teknik masase punggung untuk menurunkan tekanan darah kelayan hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha “Puspakarma” Mataram.

METODE PENELITIAN :
Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen: Time Seris Design dengan pendekatan One Group Pra Test-Post test Design. Sampel yang digunakan adalah lansia hipertensi yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha “Puspakarma” Mataram, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan yang berjumlah 12 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan pedoman observasi dan teknik wawancara. Data dianalisa dengan uji statistik t-test.

HASIL PENELITIAN :
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebelum pelaksanaan masase punggung dengan uspan perlahan tekanan darah responden sebagian besar (50%) masuk dalam kategori hipertensi sedang dan setelah pelaksanaan masase berada pada kategori normal tinggi (33,3%), hipertensi ringan (33,3%), dan Hipertensi Sedang (33,3%). Hasil analisa data dengan t-test yaitu t-hitung sebesar 8,347 yang dikonsultasikan ke t-tabel dengan tingkat kemaknaan 0,05 dan d.b = 11 didapatkan hasil sebesar 1,796.

KESIMPULAN :
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa efektifitas teknik masase punggung dengan usapan perlahan dapat menurunkan tekanan darah kelayan hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha “Puspakarma” Mataram.

Kata Kunci: Lansia, Masase punggung, Hipertensi.

COVER
ABSTRAK
     
BAB I PENDAHULUAN
     
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
     
BAB III METODE PENELITIAN
     
BAB IV HASIL PENELITIAN-PEMBAHASAN
     
BAB VII PENUTUP
     
DAFTAR PUSTAKA
     
LAMPIRAN
     



INTISARI

KARYA TULIS ILMIAH

PENGARUH TERAPI BERMAIN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN AKIBAT HOSPITALISASI PADA ANAK PRASEKOLAH  DI ZAAL ANAK  RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BIMA

YU’TIYAN RIZQI
NIM : P.00620209051

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA  POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM  PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BIMA
2012



LATAR BELAKANG :
Kecemasan adalah suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidaktentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal. Menurut Supartini (2004), terapi bermain merupakan terapi pada anak yang menjalani hospitalisasi. Pada saat dirawat di rumah sakit, anak mengalami berbagai perasaan tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Setiap anak yang di hospitalisasi akan menimbulkan perasaan yang tidak aman seperti lingkungan asing, berpisah dari orangtua, kurang informasi, kehilangan kebebasan dan kemandirian.  Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum yang dialami oleh pasien anak terutama usia prasekolah (3-5 tahun ) yang dirawat di rumah sakit.

METODE PENELITIAN :
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh terapi bermain dengan terhadap tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada anak prasekolah. Penelitian ini dilakukan di Ruang Zaal Anak RSUD Bima yang dilakukan pada bulan Agustus  2012 . Penelitian ini menggunakan metode penelitian Pra Eksperimen dengan desain one group pretest-posttest design (pra-pasca tes dalam satu kelompok). Sampel yang dipakai adalah 20 orang yang sedang menjalani hospitalisasi. Analisis statistik yang digunakan adalah dengan uji T-Tets dengan taraf kemaknaan 5 %.

HASIL PENELITIAN :
Hasil Uji T-Test terhadap 20 orang didapatkan perubahan tingkat kecemasan yang bermakna pada anak usia prasekolah yang sedang menjalani hospitalisasi di Ruang Zaal Anak RSUD Bima yaitu dengan nilai p = 0,002 dan nilai α= 0,05 (0,002 < 0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa terapi bermain dengan teknik bercerita mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menurunkan kecemasan anak prasekolah di Ruang  Zaal Anak RSUD Bima.

KESIMPULAN :
Rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah ditujukan kepada perawat anak agar dapat menerapkan terapi bermain yang berpengaruh dalam menurunkan kecemasan pada anak prasekolah.

Kata kunci : Terapi bermain, Tingkat kecemasan dan usia prasekolah


COVER
      
ABSTRAK
      
BAB I PENDAHULUAN
      
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
      
BAB III METODE PENELITIAN
      
BAB IV HASIL PENELITIAN-PEMBAHASAN
      
BAB VII PENUTUP
      
DAFTAR PUSTAKA
      
LAMPIRAN
 

RINGKASAN

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH  TERAPI  MEMODIFIKASI LINGKUNGAN TERHADAP TINGKAT KEMAMPUAN KOGNITIF PADA KLIEN  LANSIA   YANG  MENGALAMI  DIMENSIA DI DUSUN BONJERUK DUAH DESA BONJERUK  KECAMATAN JONGGAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH

I MADE SUDANTA


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM 
MATARAM
2012



LATAR BELAKANG
Keberhasilan pembangunan terutama dalam bidang teknologi kedokteran dan kesehatan berdampak terhadap meningkatnya usia harapan hidup. Akibatnya terjadi perubahan struktur penduduk menjadi berbentuk piramid terbalik, dimana jumlah orang lanjut usia (lansia) lebih banyak dibandingkan anak berusia 14 tahun kebawah. Hal ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju, tetapi di Indonesia terjadi hal yang serupa. Indonesia termasuk salah satu negara dimana proses penuaan penduduknya terjadi paling cepat di Asia Tenggara, dimana proyeksi penduduk serta estimasi rata-rata harapan hidup penduduk Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Pada tahun 2005 rata-rata usia harapan hidup sekitar 67,8 tahun meningkat menjadi 70 tahun antara tahun 2005-2010. Persentase penduduk lanjut usia, yaitu seseorang yang berusia di atas 60 tahun, sekitar  9,5% pada tahun 2005 akan menjadi 11% atau sekitar 28 juta pada tahun 2020 (Bappenas, BPS, dan UNFPA, 2005).  Proses menua dalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu hal yang wajar yang akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur panjang, proses ini terjadi terus menerus dan berkelajutan secara ilmiah. Berdasarkan UU No.12 tahun 1998 tentang usia lanjut disebutkan bahwa yang masuk dalam katagori lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun keatas. Namun yang terjadi di Indonesia banyak individu yang berusia 56 tahun sudah pensiun dari pekerjaannya (Nugroho, 2004).

Ketika seseorang sudah mencapai usia tua dimana fungsi-fungsi tubuhnya tidak dapat lagi berfungsi secara baik, maka lansia membutuhkan banyak bantuan dalam menjalani aktivitas-aktivitas kehidupannya. Disamping itu, berbagai penyakit degeneratif yang menyertai seperti penyakit muskoskletal, penurunan fungsi kognitif (demensia), penyakit kardio-fulmonal dll.(Alimul, 2006). Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak,  bersifat kronis atau progresif di mana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi, termasuk memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar, kemampuan, bahasa, dan penilaian kesadaran tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif yang biasanya disertai, kadang-kadang didahului, oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi. Sindrom terjadi pada penyakit Alzheimer, di penyakit serebrovaskular, dan dalam kondisi lain terutama atau sekunder yang mempengaruhi otak (Durand dan Barlow, 2006).

Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi, tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan, penurunan emosi atau perubahan kepribadian lainnya. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara, penderita menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat. Ketidakmampuan mengartikan tanda-tanda bisa menimbulkan kesulitan dalam mengemudikan kendaraan. Pada akhirnya penderita tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya (Durand dan Barlow, 2006).

Pada studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 21 desember 2011, didapatkan jumlah lansia di desa Bonjeruk sekitar 487 lansia, dan menurut kepala Dusun Bonjeruk Duah sebanyak 44 orang yang berusia diantara 60-80 tahun tinggal didusun Bonjeruk Duah. Setelah melakukan wawancara dengan beberapa lansia di dusun Bonjeruk Duah, didapapatkan beberapa lansia mengalami gejala-gejala awal demensia, seperti  adanya kecemasan, rasa takut, perubahan emosional secara tiba-tiba (Buku Laporan tahunan Desa Bonjeruk, 2011).

Proses penuaan yang terjadi pada setiap individu memeungkinkan setiap lansia memiliki gejala-gejala demensia. Gejala–gejala ini jika dibiarkan akan menimbilkan sindrome gangguan fungsi kognitif seperti kemampuan mengingat jangka pendek, penurunan fungsi bahasa, dan psikomotor. Upaya terapi yang diberikan pada lansia hendaknya bersifat komprehensif, holistik dan multipliner. Selain farmako terapi, terapi psikologis (psiko terapi) dengan perlu mengupayakan oktimalisasi aspek lingkungan hidup melalui penerapan konsep-konsep psikologi lingkungan juga merupakan terapi pendukung yang dapat dioptimalkan (Lysa, 2008). Lingkungan adalah semua benda dan kondisi termasuk di dalamnya manusia dan aktivitasnya, yang terdapat dalam ruang di mana manusia berada dan mempengaruhi kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya. (Darsono, 1995).

Therapy milieu dilakukan dengan menciptakan suatu “Komunitas therapeutic” dimana seluruh fase interaksi paien-pasien usila dengan perawat dirancang sedemikian rupa sehingga menguntungkan pasien. Therapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sosial, memperbersar tanggung jawab terhadap aktifitas sendiri dan meningkatkan harga diri (Fozard dan Popkin, 2001). Secara teori di identifikasi bahwa sistem lingkungan sendiri terdiri dari sitem internal dan eksternal. Sistem Intermal : biologicalpsikolocal, sosiological, dan spiritual, sedangkan sistem eksternal : sesuatu diluar batas sistem internal spserti : udara, iklim, air, bangunan, sosial budaya, politik, ekonomi. Konsep ini mengfokuskan peran perawat dalam memodifikasi lingkungan fisik yang akan berdampak pada biokimiawi tumbuhan seperti kadar kortisune dan adrenalin yang normal, senantiasa berdampak pada psikologis klien seperti perasaan aman (safety need), terbebas dari kecemasan (anxiety).

RUMUSAN  MASALAH
Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh terapi memodifikasi lingkungan terhadap tingkat kemampuan kognitif pada klien lansia yang mengalami dimensia?”

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum : Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi memodifikasi lingkungan terhadap tingkat kemampuan kognitif pada lansia yang mengalami demensia.

Tujuan Khusus : (1) Mengidentifikasi  kemampuan kognitif pada lansia yang mengalami demensia sebelum pemberian terapi memodifikasi lingkungan di Dusun Bonjeruk Duah. (2) Mengidentifikasi  kemampuan kognitif pada lansia yang mengalami demensia setelah pemberian terapi memodifikasi lingkungan di Dusun Bonjeruk Duah.. (3) Menganalisa pengaruh terapi memodifikasi lingkungan antara sebelum dan setelah diberikan terapi memodifikasi lingkungan di Dusun Bonjeruk Duah.

SUBJEK PENELITIAN
Subjek pada penelitian ini adalah semua lansia yang tinggal di Dusun Bonjeruk Duah Desa Bonjeruk kec. Jonggat Lombok Tengah

POPULASI PENELITIAN
Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia yang mengalami demensia yang tinggal di Dusun Bonjeruk Duah Desa Bonjeruk kecamatan Jonggat Lombok Tengah.

SAMPEL PENELITIAN
Dalam penelitian ini yang menjadi sampelnya adalah lansia dengan demensia yang mengalami gangguan kognitif dan berada di Dusun Bonjeruk Duah Desa Bonjeruk Kec. Jonggat Lombok Tengah yang memenuhi kriteria inklusi.

TEKNIK SAMPLING
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling

RANCANGAN PENELITIAN ATAU DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan Pre eksperimen dengan pendekatan penelitian “One Group Pre Test-Post Test” yaitu mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan suatu kelompok subyek. Kelompok subyek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah intervensi.

INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Questioner MMSE (Mini-Mental State Examination  dengan jumlah perrtanyaan 30 pertanyaan, setiap pertanyaan jika jawaban benar maka skornya adalah 1 tapi jika jawabannya salah maka skornya adalah 0 dan pedoman pelaksanaan terapi modifikasi lingkungan.

ANALISA DATA
Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji statistik paired t test dengan taraf signifikan 0,05 (5%)

FILE
KLIK  DOWNLOAD
DIBAWAH INI
COVER
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN 
DAFTAR PUSTAKA 
LAMPIRAN 

INTISARI

SKRIPSI

PENGARUH PEMBERIAN TERAPI MUSIK MOZART TERHADAP PENGURANGAN TINGKAT NYERI HAID (DISMENORE) PRIMER PADA REMAJA USIA 15-19 TAHUN DI DESA TEMBENG PUTEK KECAMATAN WANASABA
LOMBOK TIMUR


HIMAYANI

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM
TAHUN 2011/2012



LATAR BELAKANG :
Nyeri haid (dismenore) merupakan hal yang sering terjadi menjelang atau selama haid pada setiap wanita sehingga dapat mengganggu aktifitas,harus istirahat dan menimbulkan  perasaan tidak nyaman. Salah satu tindakan penurunan nyeri pada pasien nyeri haid adalah distraksi dengan mendengarkan musik (terapi musik Mozart). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi musik Mozart terhadap pengurangan tingkat nyeri haid (dismenore) primer pada remaja usia 15-19 tahun di desa Tembeng Putek kecamatan Wanasaba Lombok Timur.

METODE PENELITIAN :
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre eksperimen dengan model rancangan “one group pre-test pos-test design”, dengan tehnik pengambilan sample mengunakan accidental sampling dengan jumlah responden 31 orang, data dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara, menggunakan uji t-test.

HASIL PENELITIAN :
Berdasarkan hasil uji t didapatkan nilai t-hitung: sebesar 13,09 dengan taraf signifikan 0,05  sebesar 1,697. hal ini menunjukkan ada pengaruh  yang signifikan antara tingkat nyeri sebelum dan sesudah perlakuan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah “ada pengaruh pemberian terapi musik mozart terhadap penurunan tingkat nyeri haid (dismenore) primer pada remaja usi 15-19 tahun di desa Tembeng Putek Kecamatan Wanasaba Lombok Timur”.

KESIMPULAN :
Disarankan bagi responden agar menerapkan terapi musik mozart ini sebagai upaya dalam mengatasi nyeri yang dialami pada saat menstruasi.
  
Kata kunci : Terapi Musik Mozart dan Nyeri Haid.


COVER
ABSTRAK
     
BAB I PENDAHULUAN
     
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
     
BAB III METODE PENELITIAN
     
BAB IV HASIL PENELITIAN-PEMBAHASAN
     
BAB VII PENUTUP
     
DAFTAR PUSTAKA
     
LAMPIRAN
     



RINGKASAN PROPOSAL

PENGARUH TERAPI PERILAKU KOGNITIF (COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY) TERHADAP PERUBAHAN  PERILAKU  PASIEN  MENARIK  DIRI  DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSINUSA TENGGARA BARAT

JUSNI

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM
TAHUN 2012/2013




LATAR BELAKANG
Sehat menurut WHO dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Sedangkan dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2007 disebutkan bahwa sekitar 2,5 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan kejiwaan, dari tingkat ringan hingga berat. Sedangkan data yang dikeluarkan Departemen Kesehatan pada tahun 2008 menyebutkan jumlah penderita gangguan jiwa berat sebesar 2,6 juta jiwa, yang diambil dari data Rumah Sakit Jiwa (RSJ) se-Indonesia (Depkes RI, 2008).

Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, prilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosional (Videbeck, 2008).

Indikator sehat jiwa meliputi sikap yang positif terhadap diri sendiri, tumbuh, berkembang, memiliki aktualisasi diri, keutuhan, kebebasan diri, memiliki persepsi sesuai kenyataan dan kecakapan dalam beradaptasi dengan lingkungan (Stuart & Laraia, 1998 dalam Yosep, 2007).

Dari segi kehidupan sosial kultural, interaksi sosial adalah merupakan hal yang utama dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai dampak adanya kerusakan interaksi sosial : menarik diri akan menjadi suatu masalah besar dalam fenomena kehidupan, yaitu terganggunya komunikasi yang merupakan suatu elemen penting dalam mengadakan hubungan dengan orang lain atau lingkungan disekitarnya (Carpenito, 1997).

Ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan jiwa. Satu diantaranya adalah isolasi sosial, supaya dapat mewujudkan jiwa yang sehat, maka perlu adanya peningkatan jiwa melalui pendekatan secara promotif, preventif dan rehabilitatif agar individu dapat senantiasa mempertahankan kelangsungan hidup terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun pada lingkungannya (Widdyasih 2008).

Karakteristik pasien yang mengalami gangguan dalam berhubungan dengan orang lain dapat dijumpai karakteristik berupa ketidaknyamanan dalam interaksi sosial, ketidakmampuan untuk menerima pendapat orang lain, gangguan interaksi dengan teman-teman dekat, keluarga, dan orang-orang terdekat lainnya. Gangguan ini menyebabkan terjadinya perilaku manipulatif pada individu yakni perilaku agresif atau melawan atau menentang terhadap orang lain yang menghalangi keinginannya atau dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Jika perilaku manipulatif tidak teratasi maka akan terjadi perilaku menarik diri yaitu usaha untuk menghindari interaksi dengan orang lain dan kemudian menghindari berhubungan sebagai suatu pertahanan terhadap ansietas yang berhubungan sebagai suatu stresor atau ancaman (Tucker, dkk. 1998).

Terapi modalitas merupakan suatu pendekatan penanganan klien gangguan jiwa yang bervariasi yang bertujuan mengubah prilaku klien gangguan jiwa dari prilaku maladaptif menjadi prilaku yang adaptif. Terapi modalitas sebagai terapi rehabilitasi  yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan untuk ekspresi diri, meningkatkan kemampuan untuk berinteraksi, meningkatkan keterampilan sosial,  meningkatkan pola penyelesaian masalah. Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) merupakan bagian dari terapi modalitas yaitu salah satu bentuk konseling yang bertujuan membantu klien agar dapat menjadi lebih sehat, memperoleh pengalaman yang memuaskan, dan dapat memenuhi gaya hidup tertentu, dengan cara memodifikasi pola pikir dan perilaku tertentu. Pendekatan kognitif berusaha memfokuskan untuk menempatkan suatu pikiran, keyakinan, atau bentuk pembicaraan diri (self talk) terhadap orang lain.

Berdasarkan data tahun 2010 dari bulan Juli sampai bulan Desember diRSJP NTB terdapat 532 pasien dengan gangguan jiwa. Masalah gangguan jiwa terbanyak yang dirawat RSJP NTB yaitu skizofrenia dengan jumlah 413, sedangkan tahun 2011 dari bulan  Januari sampai Februari terdapat 161 pasien gangguan jiwa dengan masalah gangguan jiwa terbanyak skizofrenia dengan jumlah 115.  

Berdasarkan hasil survey calon peneliti pada tahun 2011 didapatkan bahwa rata-rata pasien mengalami masalah seperti pada gangguan tidur, penurunan dukungan sosial, pemecahan masalah tidak adekuat (masih bersifat tertutup), prilaku merusak diri atau orang lain, tidak mampu memenuhi harapan peran, kerusakan komunikasi verbal dan lain-lain. Sehingga untuk proses penyembuhannya pasien selain harus minum obat secara teratur, pendekatan terhadap mereka sangat penting. Cognitive Behavioral Therapy ini juga belum pernah di lakukan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB.

Dari fenomena di atas, maka calon peneliti merasa tertarik untuk meneliti “Pengaruh Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) Terhadap Perubahan Perilaku Pasien Menarik Diri di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB”.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut “Apakah ada pengaruh terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) terhadap perubahan perilaku pasien menarik diri di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB “ ?

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum : Untuk mengetahui terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) terhadap perubahan perilaku pasien isolasi sosial di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB

Tujuan Khusus : (1) Mengidentifikasi perilaku pasien menarik diri sebelum diberikan terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy). (2) Mengidentifikasi perilaku pasien menarik diri sesudah diberikan terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy). (3) Menganalisa perubahan perilaku pasien menarik diri sebelum dan sesudah diberikan terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy).

SUBYEK PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Ruman Sakit Jiwa Provinsi NTB dan yang menjadi subyek penelitian adalah penderita gangguan jiwa pada klien menarik diri yang sedang menjalani rawat inap.

POPULASI
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah klien yang mengalami masalah menarik diri yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Provinsi NTB yang berjumlah 20 orang.

SAMPEL
Dalam penelitian yang menjadi sampel adalah semua klien menarik diri yang mengalami masalah perubahan perilaku yang menjalani rawat inap di RSJ Provinsi NTB sebanyak 20 responden.

TEHNIK PENGAMBILAN SAMPEL (SAMPLING)
Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini, menggunakan total sampling yaitu tehnik pengambilan sampel pada semua populasi (total populasi

RANCANGAN PENELITIAN ATAU DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pra eksperimental dengan pendekatan one group pre-test-post-test design yaitu mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subyek. Kelompok subyek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah intervensi (Nursalam, 2008).

INTRUMEN PENELITIAN
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan observasi. Wawancara merupakan suatu metode untuk mendukung hasil dari observasi secara lisan, sedangkan observasi sebagai metode pengumpulan data dan untuk mengukur perubahan perilaku klien sebelum dan sesudah terapi perilaku kognitif  dengan berpedoman skala Guttman.

ANALISA DATA
Analisa data pada penelitian ini menggunakan Uji Statistik T-Test



FILE
KLIK  DOWNLOAD
DIBAWAH INI
COVER
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN 
DAFTAR PUSTAKA 
LAMPIRAN 

INTISARI
EFEKTIFITAS TEKNIK MASASE PUNGGUNG UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH KELAYAN HIPERTENSI DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA “PUSPAKARMA” MATARAM
SKRIPSI

I KETUT SUASTANA
06.01.0365

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN MATARAM
2010


LATAR BELAKANG :
Tingginya angka kejadian hipertensi pada lanjut usia, tentunya menjadi sangat penting dan harus mendapat perhatian dari semua pihak mengingat akibat yang dapat ditimbulkannya. Penanganan yang bersifat farmakologi maupun nonfarmakologi sangat dibutuhkan untuk mengurangi prevalensi penyakit ini. Penanganan secara nonfarmakologi berupa masase punggung dengan usapan perlahan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menurunkan tekanan darah penderita hipertensi usia lanjut. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas teknik masase punggung untuk menurunkan tekanan darah kelayan hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha “Puspakarma” Mataram.

METODE PENELITIAN :
Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen: Time Seris Design dengan pendekatan One Group Pra Test-Post test Design. Sampel yang digunakan adalah lansia hipertensi yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha “Puspakarma” Mataram, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan yang berjumlah 12 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan pedoman observasi dan teknik wawancara. Data dianalisa dengan uji statistik t-test.

HASIL PENELITIAN :
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebelum pelaksanaan masase punggung dengan uspan perlahan tekanan darah responden sebagian besar (50%) masuk dalam kategori hipertensi sedang dan setelah pelaksanaan masase berada pada kategori normal tinggi (33,3%), hipertensi ringan (33,3%), dan Hipertensi Sedang (33,3%). Hasil analisa data dengan t-test yaitu t-hitung sebesar 8,347 yang dikonsultasikan ke t-tabel dengan tingkat kemaknaan 0,05 dan d.b = 11 didapatkan hasil sebesar 1,796.

KESIMPULAN :
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa efektifitas teknik masase punggung dengan usapan perlahan dapat menurunkan tekanan darah kelayan hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha “Puspakarma” Mataram.

Kata Kunci: Lansia, Masase punggung, Hipertensi.

COVER
ABSTRAK
     
BAB I PENDAHULUAN
     
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
     
BAB III METODE PENELITIAN
     
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
     
BAB V PENUTUP
     
DAFTAR PUSTAKA
     
LAMPIRAN
     


RANDOM POSTING

CARA DOWNLOAD FILE

1. Klik link dowloadnya (Klik Disini)
2. Setelah itu kita akan dibawa ke situs
"Adf.ly"
3. Tunggu 5 Detik pada pojok kanan atas
4. Kemudian klik tombol "Lewati" atau
"Skip Ad"
5. Selesai

Total Tayangan Halaman

PENULIS

Copyright © 2013. YUFLIHUL KHAIR & RATIH KURNIATI - All Rights Reserved. Powered by Blogger.

Followers

Featured post

HALAMAN UTAMA

SELAMAT DATANG  EBOOK'S YUFLIHUL KHAIR Selamat EBOOK'S YUFLIHUL KHAIR, saya sangat senang anda dis...

ARSIP POSTING

ARTIKEL TERKINI

Google+ Followers

POSTING TERPOPULER

DAFTAR ARTIKEL