Tuesday, 17 June 2014

LP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MIOMA UTERI

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MIOMA UTERI

Yuflihul Khair, S.Kep.,Ns


PENGERTIAN
Mioma Uteri adalah  neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid. Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Dikenal ada dua tempat asal mioma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%), belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche.

PENYEBAB
Walaupun mioma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti, namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen.

PATOFISIOLOGI
Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak di banding miometrium normal. Menurut letaknya, mioma terdiri dari mioma submukosum, intramural, dan subserosum. Mioma uteri lebih sering di temukan pada nulipara, faktor keturunan juga berperan. Mioma uteri terdiri dari otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul. Perubahan sekunder padamioma uteri sebangian besar bersifat degeneratif karena berkurangnya aliran darah ke mioma uteri. Perubahan sekunder meliputi atrofi, degenerasi hialin, degenerasi kistik, degenerasi membantu, degenerasi merah, dan degenerasi lemak.

MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis tergantung letak mioma, besarnya, perubahan sekunder, dan komplikasi serta hanya terdapat pada 35-50% penderita. Manifestasi klinis dingolongkan menjadi: (1) Perdarahan abnormal, yaitu dismenore, menoragi, metroragi. (2) Rasa nyeri. (3) Gejala dan tanda penekanan, seperti retensio urine, hidronefrosis, hidroureter. (4) Abortus spontan. (5) Infertilitas

NURSING PATHWAY : Klik Disini

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK : (1) Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun, Albumin         : turun, Lekosit : turun / meningkat, Eritrosit      : turun. (2) USG : terlihat massa pada daerah uterus. (3) Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya. (4) Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut. (5) Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi. (6) ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.  (7) Laparoskopi.

PENATALAKSANAAN MEDIS : (1) Pada mioma kecil dan tidak menimbulkan keluhan, tidak diberikan terapi, hanya diobservasi tiap 3-6 bulan untuk menilai pembesaranya. Mioma akan lisut setelah menopause. (2) Pemberian GnRH agonis selama 6 minggu. (3) Miomektomi dengan atau tanpa histerektomi bila besar uterus melebihi seperti kehamilan 12-14 minggu. (4) Radioterapi. (5) Estrogen untuk pasien setelah menapause dan observasi setiap 6 bulan

KOMPLIKASI
Pertumbuhan leimiosarkoma : Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause

Torsi (putaran tangkai) : Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut.

Nekrosis dan Infeksi : Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina, dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.

PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dalam melakukan asuhan keperawatan secara keseluruhan. Pengkajian terdiri dari tiga tahapan yaitu ; pengumpulan data, pengelompakan data atau analisa data dan perumusan diagnose keperawatan (Depkes RI, 1991 ).
Pengumpulan Data : Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun imformasi (data-data) dari klien. Data yang dapat dikumpulkan pada klien sesudah pembedahan Total Abdominal Hysterektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO ) adalah sebagai berikut:

Usia : (1) Mioma biasanya terjadi pada usia reproduktif, paling sering ditemukan pada usia 35 tahun keatas. (2) Makin tua usia maka toleransi terhadap nyeri akan berkurang. (3) Orang dewasa mempunyai dan mengetahui cara efektif dalam menyesuaikan diri terutama terhadap  perubahan yang terjadi pada dirinya akibat tindakan TAH-BSO.

Keluhan Utama  : Keluhan yang timbul pada hampir tiap jenis operasi adalah rasa nyeri karena terjadi torehan tarikan, manipulasi jaringan organ.Rasa nyeri setelah bedah biasanya berlangsung 24-48 jam. Adapun yang perlu dikaji pada rasa nyeri tersebut  adalah : (1) Lokasi nyeri . (2) Intensitas nyeri  (3) Waktu dan durasi. (4) Kwalitas nyeri.

Riwayat Reproduksi : (1) Haid : Dikaji tentang riwayat menarche dan haid terakhir, sebab mioma uteri tidak pernah ditemukan sebelum menarche dan mengalami atrofi pada masa menopause. (2) Hamil dan Persalinan : (a) Kehamilan mempengaruhi pertubuhan mioma, dimana mioma uteri tumbuh cepat pada masa hamil ini  dihubungkan dengan hormon estrogen, pada masa ii dihasilkan dalam jumlah yang besar. (b) Jumlah kehamilan dan anak yang hidup mempengaruhi psikologi klien dan keluarga terhadap hilangnya oirgan kewanitaan.


Data Psikologi : Pengangkatan organ reproduksi dapat sangat berpengaruh terhadap emosional klien dan diperlukan waktu untuk memulai perubahan yang terjadi. Organ reproduksi merupakan komponen kewanitaan, wanita melihat fungsi menstruasi sebagai lambang feminitas, sehingga berhentinya menstruasi bias dirasakan sebgai hilangnya perasaan kewanitaan. Perasaan seksualitas dalam arti hubungan seksual perlu ditangani . Beberapa wanita merasa cemas bahwa hubungan seksualitas terhalangi atau hilangnya kepuasan. Pengetahuan klien tentang dampak yang akan terjadi sangat perlu persiapan psikologi klien.

Status Respiratori : Respirasi bias meningkat atau menurun . Pernafasan yang ribut dapat terdengar  tanpa stetoskop. Bunyi pernafasan akibat lidah jatuh kebelakang atau akibat terdapat secret. Suara paru yang kasar  merupakan gejala terdapat secret pada saluran nafas . Usaha batuk dan bernafas dalam dilaksalanakan segera pada klien  yang memakai anaestesi general.

Tingkat  Kesadaran : Tingkat kesadaran dibuktikan melalui pertanyaan  sederhana yang harus dijawab oleh klien atau di suruh untuk melakukan perintah. Variasi tingkat kesadaran dimulai dari siuman sampai ngantuk , harus di observasi dan penurunan tingkat kesadaran merupakan gejala syok.

Status Urinari : Retensi urine paling umum terjadi setelah  pembedahan ginekologi, klien yang hidrasinya baik biasanya baik biasanya  kencing setelah 6 sampai 8 jam setelah pembedahan. Jumlah autput urine yang sedikit akibat kehilangan cairan tubuh saat operasi, muntah akibat anestesi.

Status Gastrointestinal : Fungsi gastrointestinal biasanya pulih  pada 24-74 jam setelah pembedahan, tergantung pada kekuatan efek narkose pada penekanan intestinal. Ambulatori dan kompres hangat perlu diberikan untuk menghilangkan gas dalam usus.

Diagnosa Keperawatan : (1) Gangguan eliminasi urin (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnnya, gangguan sensorik / motorik. (2) Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot. (3)   Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat pada hubungan seksual. (4) Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan   yang berulang-ulang.   (5) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.



Rencana tindakan keperawatan
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan Keperawatan
Tujuan  dan criteria hasil
Intervensi
Rasional
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma
Klien dapat mengontrol nyerinya dengan criteria hasil mampu mengidentifikasi cara mengurangi nyeri, mengungkapkan keinginan untuk mengontrol nyerinya.
Observasi adanya nyeri dan tingkat nyeri.

Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakah untuk mengatasi nyeri


Ajarkan teknik relaksasi





Anjurkan untuk menggunakan kompres hangat

Kolaborasi pemberian analgesik
Memudahkan tindakan keperawatan

Meningkatkan persepsi klien terhadap nyeri yang dialaminya.

Membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien.

Meningkatkan kenyamanan klien

Mengurangi nyeri
Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnnya, gangguan sensorik / motorik.
Pola eliminasi urine ibu kembali normal dengan criteria hasil ibu memahami terjadinya retensi urine, bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan retensi urine.
Catat pola miksi dan monitor pengeluaran urine


Lakukan palpasi pada kandung kemih, observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri.

Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat, mengatur posisi, mengalirkan air keran.
Melihat perubahan pola eliminasi klien

Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien



Mencegah terjadinya retensi urine
Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat pada hubungan seksual.

Konsep diri klien tidak mengalami gangguan dengan criteria hasil menerima keadaan dirinya, menyatakan bersedia untuk dilakukan tindakan termasuk tindakan pembedahan
Beritahu klien tentang siapa saja yang bisa dilakukan histerektomi dan anjurkan klien untuk mengekpresikan perasaannya tentang histerektomi

Kaji apakah klien mempunyai konsep diri yang negatif.

Memotivasi klien untuk mengungkapkan perasaannya mengenai tindakan pembedahan dan pengaruhnya terhadap diri klien

Ciptakan lingkungan atau suasana yang terbuka bagi klien untuk membicarakan keluhan-keluhannya.
Mengurangi kecemasan dan meningatkan harga diri klien







Identifikasi kekuatan dan kelemahan klien

Mengurangi kecemasan








Meningkatkan harga diri klien dan berperan aktif dalam perencanaan perawatan bagi diri klien

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Obstetri & Ginekologi FK. Unpad. 1993. Ginekologi. Elstar. Bandung

Carpenito, Lynda Juall, 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta

Galle, Danielle. Charette, Jane.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC. Jakarta

Hartono, Poedjo. 2000. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Mimbar Vol.5 No.2 Mei 2001

Saifidin, Abdul Bari,dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan  Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Jakarta

 
 KLIK DOWNLOAD DIBAWAH INI UNTUK MENDAPATKAN 

FILE LENGKAP DALAM BENTUK PDF
http://adf.ly/pfLWo












No comments:

Popular Posts