Wednesday, 2 April 2014

HUBUNGAN ANTARA POST POWER SYDROME DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA YANG TELAH PENSIUN DI KECAMATAN SANDUBAYA MATARAM

RINGKASAN
PROPOSAL KTI

Oleh : AHMAD KAZZUAINI

HUBUNGAN ANTARA POST POWER SYDROME DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA YANG TELAH PENSIUN DI KECAMATAN SANDUBAYA MATARAM

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR MATARAM Tahun 2012

LATAR BELAKANG :
Menurut penelitian Dinsi (2006) pihak yang paling takut menghadapi masa pensiun adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Para Pegawai Negeri Sipil yang telah habis masa purna tugasnya atau pensiun, mengalami mental shock (faktor kejiwaan). Menjelang akhir masa kerjanya, mereka tampak kurang beraktivitas dan sering sakit-sakitan. Mental shock ini terjadi, karena adanya ketakutan tentang apa yang harus dihadapi kelak, ketika masa pensiun tiba. Terasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya, karena pekerjaan dan jabatan yang selama ini dipegang, harus ditinggalkan. Kehilangan pekerjaan dan jabatan inilah yang membuat mereka stres, cemas dan depresi.

Individu yang memasuki masa pensiun sering dianggap sebagai individu yang tuna karya (tidak dibutuhkan lagi tenaga dan pikirannya). Anggapan semacam ini membuat individu tidak bisa lagi menikmati masa pensiunnya dengan hidup santai dan ikhlas. Ketakutan menghadapi masa pensiun, membuat banyak orang mengalami problem serius baik dari sisi kejiwaan maupun fisik, terlebih individu yang memiliki ambisi yang besar serta sangat menginginkan posisi yang tinggi dalam pekerjaannya. Hal ini akan sangat rentan bagi individu untuk mengalami goncangan ketika pensiun yang biasa kita kenal sebagai post power syndrome (Dinsi, 2006). Post power syndrome yaitu gejala kejiwaan yang kurang stabil dan muncul tatkala seseorang turun dari jabatan yang dimiliki sebelumnya, ditandai dengan wajah yang tampak jauh lebih tua, pemurung, sakit-sakitan, lemah mudah tersinggung, merasa tidak berharga, melakukan pola-pola kekerasan yang menunjukkan kemarahan baik dirumah maupun tempat lain (Rini, 2001). Post Power Syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lansia dan pensiun dari pekerjaannya, hanya saja banyak orang yang berhasil melalui fase ini dengan cepat dan dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Namun pada kasus-kasus tertentu, individu tidak mampu menerima kenyataan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang harus mendesak. Bila dirinya adalah satu-satunya penopang hidup keluarga, risiko terjadinya Post Power Syndrome yang berat semakin besar. Dukungan dan pengertian dari orang-orang tercinta serta lingkungan terdekat, dalam hal ini keluarga sangat membantu dan kematangan emosi sangat berpengaruh pada terlewatinya Post Power Syndrome (Wardhani, 2006).

Pada study pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 21 Desember 2011, didapat sejumlah 79 PNS dinyatakan pensiun pada awal tahun 2012 (data dikeluarkan dinas Pendidikan dan Kebudayaan kecamatan Sandubaya). Dari wawancara terhadap beberapa lansia yang telah pensiun didapatkan beberapa diantara mereka mengalami kecemasan. Kecemasan yang dialami  sering dikarenakan kekhawatiran akan kehidupannya setelah menjalani pensiun.

Cemas merupakan perasaan yang difus, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Menurut Blakburn dan Davidson (dalam Kuntjoro, 2002) kondisi yang dapat menyebabkan pensiun mengalami depresi antara lain : Pensiun seringkali dianggap sebagai kenyataan yang tidak menyenangkan sehingga menjelang masanya tiba sebagian orang sudah merasa cemas karena tidak tahu kehidupan macam apa yang akan dihadapi kelak, banyak orang takut menghadapi masa tua karena asumsinya jika sudah tua, maka fisik akan makin lemah, makin banyak penyakit, cepat lupa, penampilan makin tidak menarik dan makin banyak hambatan lain yang membuat hidup makin terbatas. Kecemasan yang terakumulasi terus menerus dapat menimbulkan gangguan fisik atau psikologis yang bisa menimbulkan dampak buruk bagi lansia itu sendiri.

Berdasarkan uraian diatas calon peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara kecemasan dengan post power syndrome pada lansia yang telah pensiun di kecamatan sandubaya mataram.

RUMUSAN MASALAH :
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, peneliti ingin mengetahui: “adakah hubungan antara Post Power Sindrome dengan kecemasan pada lansia yang telah pensiun di kecamatan sandubaya mataram”?.

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum : Mengetahui hubungan antara Post Power Sindrome dengan kecemasan pada lansia yang telah pensiun di kecamatan Sandubaya Mataram.
Tujuan Khusus : (1) Mengidentifikasi post power syndrome pada lansia yang telah pensiun dikecamatan sandubaya Mataram. (2) Mengidentifikasi tingkat kecemasan pada lansia yang telah pensiun dikecamatan sandubaya Mataram. (3) Menganalisa hubungan antara Post Power Sindrome dengan kecemasan pada lansia yang telah pensiun di kecamatan sandubaya mataram.

JENIS PENELITIAN :
Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah studi korelasional, yaitu mengkaji hubungan antara variabel dependent dan independent secara cross sectional yaitu melakukan observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali, pada satu saat dan tidak ada follow up .

POPULASI DAN SAMPEL
PopulasiPopulasi pada penelitian ini adalah semua pensiunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P & K)  kecamatan Sandubaya sebanyak 79 orang.
Sampel Dan Teknik Sampling : Teknik sampling yang digunakan pada penelitian adalah Purposive Sampling. Purposive Sampling  yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugyono, 2010).

INSTRUMEN PENELITIAN :
Penilaian tingkat kecemasan menggunakan HARS dapat dijelaskan sebagai berikut : Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai pada 14 item pertanyaan dengan kategori:  0 = tidak ada gejala sama sekali ,    1 = Satu dari gejala yang ada, 2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada , 3 = Berat/lebih dari ½ gejala yang ada, 4 = Sangat berat semua gejala ada. Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor  dan item 1-14 dengan hasil. Penilaian derajat kecemasan, skor : 14 – 20 : Kecemasan Ringan. 21 – 27 : Kecemasan Sedang, 28 – 41 : Kecemasana Berat. 42 – 56: Panik (Hawari, 2001).

Sedangkan untuk menilai adanya gejala post power syndrome dapat dijelaskan sebagai berikut : Gejala-gejala post power syndrome diberikan skor, skor 1 jika terdapat gejala, skor 0 jika gejala tidak ada (Wasis, 2008), yang kemudian diuji Reabilitas dan Validitas. Selanjutnya dikatagorikan post power syndrome ringan, sedang, dan berat berdasarkan jumlah gejala yang ada: Post power syndrome ringan : skor dibawah 55%. Post power syndrome sedang : skor antara 56%-75% Post power syndrome berat : skor 76% - 100%

ANALISA DATA
Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji statistic korelasi spearman rank dengan taraf kesalahan 5%, Hasil dari perhitungan tersebut untuk memperoleh nilai signifikan dapat dikonsultasikan ke tabel harga p. Ho diterima apabila t hitung  <  t tabel.  Analisa data ini dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS 17.0 for windows.

Klik Dibawah Ini Untuk Download Filenya :

Cover : Download
Lembar Pengesahan : Download
Kata Pengantar : Download
Daftar Isi : Download
BAB I Pendahuluan : Download
BAB II Tinjauan Pustaka : Download
BAB III Metodelogi Penelitian : Download
Daftar Pustaka : Download



No comments:

Popular Posts