Tuesday, 24 December 2013

LAPORAN PENDAHULUAN KEHAMILAN EKTOPIK (KEHAMILAN DI LUAR RAHIM)

KEHAMILAN EKTOPIK
(KEHAMILAN DI LUAR RAHIM)

Yuflihul Khair.,S.Kep.,Ns


A.   PENGERTIAN
Kehamilan ektopik atau juga dikenal sebagai kehamilan di luar kandungan merupakan suatu kondisi kehamilan dimana sel telur yang sudah dibuahi tidak mampu menempel atau melekat pada rahim ibu, namun melekat pada tempat yang berbeda yaitu di tuba falopi atau saluran telur (kehamilan di luar kandungan yang sering terjadi), leher rahim, dalam rongga perut atau indung telur. Atau dengan kata lain, kehamilan ektopik merupakan suatu kondisi dimana sel telur yang telah dibuahi mengalami implantasi pada tempat selain tempat seharunya, yaitu uterus. Jika sel telur yang telah dibuahi menempel pada saluran telur, hal ini akan menyebabkan bengkaknya atau pecahnya sel telur akibat pertumbuhan embrio.

Kehamilan ektopik menimpa sekitar 1% dari seluruh kehamilan dan hal ini merupakan suatu kondisi darurat dimana dibutuhkan pertolongan secepatnya. Karena jika dibiarkan kondisi ini sangat berbahaya dan mampu mengancam nyawa ibu, hal ini disebabkan oleh perdarahan dalam rongga abdomen, dan bukan terjadinya perdarahan keluar. Dalam kasus kehamilan ektopik, janin memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk dapat bertahan hidup. Namun di sejumlah kondisi kecil, contoh pada kehamilan abdominal, kehamilan dan janin bisa bertahan hingga masa persalinan dan jika persalinan dilakukan dengan cara caesar, maka ada harapan serta kemungkinan bayi untuk dapat bertahan hidup. Peluang kehamilan ektopik lebih tinggi jika saluran telur rusak karena radang perut (misalnya usus buntu atau infeksi klamidia) atau karena operasi rongga perut. IUD (spiral) juga meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

B.   MACAM-MACAM KEHAMILAN EKTOPIK
Berbagai macam faktor berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik. Semua faktor yang menghambat migrasi embrio ke kavum uteri menyebabkan seorang ibu semakin rentan untuk menderita kehamilan ektopik. Beberapa faktor yang dihubungkan dengan kehamilan ektopik diantaranya:
1.        Faktor dalam lumen tuba:
2.        Endosalpingitis, menyebabkan terjadinya penyempitan lumen tuba
3.        Hipoplasia uteri, dengan lumen tuba menyempit dan berkelok-kelok
4.     Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna dan menyebabkan lumen  tuba menyempit
5.       Faktor pada dinding tuba:
6.       Endometriosis, sehingga memudahkan terjadinya implantasi di tuba
7.       Divertikel tuba kongenital, menyebabkan retensi telur di tempat tersebut
8.       Faktor di luar dinding tuba:
9.     Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba, mengakibatkan terjadinya  hambatan perjalanan telur
10.     Tumor yang menekan dinding tuba, menyebabkan penyempitan lumen tuba
11.     Pelvic Inflammatory Disease (PID)
12.     Faktor lain:
13.     Hamil saat berusia lebih dari 35 tahun
14.   Migrasi luar ovum, sehingga memperpanjang waktu telur yang dibuahi sampai ke  uterus
15.     Fertilisasi in vitro
16.     Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
17.     Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
18.     Merokok
19.     Penggunaan dietilstilbestrol (DES)
20.     Uterus berbentuk huruf T
21.     Riwayat operasi abdomen
22.     Kegagalan penggunaan kontrasepsi yang mengandung progestin saja
23.     Ruptur appendix
24.     Mioma uteri

C.    Patofisiologi

     Pada kehamilan normal, proses pembuahan (pertemuan sel telur dengan sperma) terjadi pada tuba, kemudian sel telur yang telah dibuahi digerakkan dan berimplantasi pada endometrium rongga rahim. Kehamilan ektopik yang dapat disebabkan antara lain faktor di dalam tuba dan luar tuba, sehingga hasil pembuahan terhambat/tidak bisa masuk ke rongga rahim, sehingga sel telur yang telah dibuahi tumbuh dan berimplantasi (menempel) di beberapa tempat pada organ reproduksi wanita selain rongga rahim, antara lain di tuba falopii (saluran telur), kanalis servikalis (leher rahim), ovarium (indung telur), dan rongga perut. Yang terbanyak terjadi di tuba falopii (90%)

D.    Gejala
Jika Anda mengalami kehamilan ektopik, gejala biasanya akan terasa pada sekitar 6 – 10 minggu usia kehamilan. Jika Anda mendapatkan gejala berikut,
Sakit di salah satu sisi panggul
Perdarahan vagina di luar menstruasi
Nyeri di perut bagian bawah
Pingsan
Mual
Pada tahap lanjut, kehamilan ektopik dapat menimbulkan gejala : Nyeri perut yang intens,
Hipotensi, Denyut nadi cepat, dan kulit pucat

E.     Penyebab Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik biasanya disebabkan oleh berbagai hal, dan yang paling sering adalah disebabkan adanya infeksi pada saluran falopi (tuba falopi). Kehamilan ektopik besar kemungkinan terjadi pada kondisi:
  1. Ibu pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya (terdapat riwayat kehamilan ektopik)
  2. Ibu pernah mengalami operasi pembedahan pada daerah sekitar tuba falopi
  3. Ibu pernah mengalami Diethylstiboestrol (DES) selama masa kehamilan
  4. Kondisi tuba fallopi yang mengalami kelainan kongenital
  5. Memiliki riwayat Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti gonorrhea, klamidia dan PID (pelvic inflamamtory disease.
F.     Diagnosis
Karena beberapa gejala di atas juga dapat terjadi pada kehamilan normal, dokter bisa sulit untuk mendiagnosis. Oleh karena itu, ada sejumlah tes yang dapat dilakukan jika dicurigai ada kehamilan ektopik. Menggunakan ultrasound, dokter mungkin dapat melihat kehamilan ektopik, karena adanya darah di tuba falopi yang rusak atau ada embrio di luar uterus. Laparoskopi melalui sayatan kecil di perut dapat dengan mudah melihat bila ada embrio di luar rahim. Mengukur kadar hormon kehamilan hCG (human chorionic gonadotopin) adalah cara lain untuk mendeteksi kehamilan ektopik. Dalam kehamilan normal, kadar hCG berlipat kira-kira setiap dua hari hingga minggu ke-12. Jika hCG diperkirakan tidak meningkat, mungkin ada sesuatu yang salah dalam kehamilan. Dokter akan selalu mencoba mendiagnosis kehamilan ektopik sedini mungkin. Dengan demikian, kerusakan biasanya masih terbatas dan risiko perdarahan internal dan komplikasi terkait masih rendah.

G.    Pengobatan
Kehamilan ektopik harus selalu dibatalkan dan dokter akan mencoba untuk menahan laju pertumbuhan embrio dengan obat-obatan. Lebih cepat kehamilan ektopik terdeteksi, semakin besar kemungkinan kehamilan dapat dibatalkan tanpa menimbulkan efek jangka panjang. Bila kehamilan ektopik terdeteksi di tahap awal, seringkali embrio dapat ditangani dengan obat suntik dan diserap oleh tubuh Anda. Dalam terapi ini tuba falopi biasanya masih utuh. Dalam situasi yang lebih serius, misalnya ketika tuba falopi sudah mengembang, maka diperlukan operasi.

H.    Prognosis

Wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik, ada kemungkinan sekitar 12% akan terkena lagi di masa mendatang. Karena itu, bila Anda pernah mengalaminya Anda harus memberitahu dokter atau bidan Anda. Sekitar 60% wanita menjadi subur kembali setelah kehamilan ektopik, 30% tidak ingin hamil karena pengalaman itu dan 10% menjadi infertil (tidak subur). Dukungan positif suami, saudara, atau teman terdekat akan sangat diperlukan bagi wanita yang mengalami kehamilan ektopik. Hal ini diharapkan dapat mengurangi pengalaman traumatic dari kehamilan ektopik, sehingga recovery dan keinginan untuk hamil kembali bisa secapatnya pulih (tentunya melihat kondisi setelah mengalami kehamilan ektopik). Konsultasikan kondisi anda kepada dokter atau bidan jika anda ingin hamil kembali setelah mengalami kehamilan ektopik. Hal ini sangatlah penting untuk dilakukan, agar dokter atau bidan dapat memberikan langkah-langkah yang harus di tempuh untuk menghindari kembali terjadinya kehamilan ektopik. Dan jika, memutuskan untuk hamil kembali, maka pengawasan ketat terhadap kehamilan berikutnya sangat diperlukan, guna menjaga agar kehamilan tetap berlangsung dengan baik sampai masa persalinan nanti.

KLIK DOWNLOAD DIBAWAH INI UNTUK MENDAPATKAN 
FILE LENGKAP DALAM BENTUK PDF
 


Sunday, 22 December 2013

NURSING PATHWAY BRONKITIS



Klik Disini Untuk Download Filenya : Klik Disini

RESUME KEPERAWATAN ANAK DENGAN GANGGUAN MOTOTRIK KASAR

RESUME KEPERAWATAN PADA AN “R”DENGAN
GANGGUAN MOTOTRIK KASAR DI POLI
 TUMBUH KEMBANG ANAK RSUP NTB

Ns. Yuflihul Khair.,S.Kep



A.   Masalah Utama
Adanya keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan

B.   Tinjauan teoritis

Pengertian
   Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang Dan berat. Perkembangan adalah bertambahnya struktur Dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar,  gerak halus,  bicara dan bahasa serta  sosialisasi dan kemandirian

   Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam strukrur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.

   Proses pematangan : proses diferensiasi dari sel sel tubuh, jaringan tubuh, organ organ dan sistem organ yang berkembang termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.

    Motorik kasar merupakan geraan otot-otot besar seperti otot-otot kaki dan tangan pada bayi yang berupa gerakan menendang,  meraih,  mengangkat leher,  dan menoleh

Penyebab
a.    Kerusakan pada sumsum saraf pusat
b.    Kurangnya asupan gizi
c.    Terserang penyaki pada saat hamil

Tanda dan gejala
a.    Bayi terlalu kaku
b.    Berbaring tanpa melakukan gerakan
c.  Anak kurang aktif dalam bergerak

Pemeriksaan
a.    Pemeriksaan mata dan pendengaran
b.    Pemeriksaan CSP
c.    Toksoplasma,  herpes simpleks
d.    Foto kepala,  CT scan atau MRI
e.    EEG,  EMG,  dan Evoked Rotensial

Penatalaksanaan

Jika memang ditemukan adanya keterlambatan dalam perkembangan motorik kasar anak harus ditelusuri faktor-faktor penyebab sebelum menentukan apa yang harus dilakukan
a.   Pola asuh
      Bila penyebabnya adalah pola asuh maka yang harus diusahakan ialah sikap orang tua             harus membiasakan anaknya bergerak bebas.
b.   Kelainan tubuh
      Jika penyebabnya adalah kelainan tubuh tertentu maka harus konsultasikan dengan dokter       anak.
c.   Konsultasikan dengan dokter anak à infaksi telinga

Terapi
a. Terapi dengan obat-obatan diberikan sesuai kebutuhan
b. Terapi melalui pembedahan ortopedi
c. Fisiotherapi
d. Ortotik

A.   Asuhan keperawatan
         I.   Pengkajian
a.    Identitas klien
Nama                         : An “H”
Jenis kelamin              : laki-laki
Umur                         : 7 bulan
Anak ke                      : I (pertama)
Agama                       : Islam
Suku/Bangsa               : Sasak Indonesia
No. RM                       : 011044
Sumber informasi                   : ibu klien
dx. Medis                    : Riwat Kejang Demam
Alamat                       : Lingsar Narmada

b.    Penanggung jawab
Nama Ayah                 : Tn “M”
Nama Ibu                   : Ny “S”
Pendidikan ayah          : DIII
Pendidikan Ibu            : SMA
Pekerjaan ayah            : Guru
Pekerjaan Ibu              : Guru
Agama                       : Islam
Suku Bangsa                : Sasak-Indonesia
Alamat                        : Lingsar, Narmada

c.    Riwayat Penyakit
1)   Keluhan utama
Lemas tidak bisa duduk

2)   Riwayat Penyakit sekarang
Diduga Adanya keterlambatan dalam perkembangan, Keluarga khawatir keadaan anaknya karena sampai saat ini anaknya masih lemas dan belum bisa duduk sendiri, bisa duduk jika dipegang dan didudukkan.

d.   Riwayat penyakit dahulu
                     Keluarga mengatakan anaknya pernah mengalami penyakit                 Kejang demam dan oleh dokter dianjurkan untuk kontrol ke poli anak jika           obat habis.

Klik Disini Untuk Download Filenya : Klik Disini 


RESUME KASUS SINDROM NEFROTIK

RESUME KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.“E” DENGAN GANGGUAN NEFROTIK SYNDROM DI POLI ANAK RUMAH SAKIT UMUM PROPINSI (RSUP)
NUSA TENGGARA BARAT

Nama mahasiswa     : Muriani                          Ruang : Poli Anak
NPM                       : 08.01.1122                    No.RM : 091657
Tgl Pengkajian        : 20 Desember 2013

A.        Masalah Utama
Nefrotik syndrom

B.        Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a.   Identitas Klien
Nama                                  : An.“E”
Jenis kelamin                       : Perempuan
Tempat tanggal lahir             : Rambita,1 Juni 1999
Umur                                  : 14 tahun
Agama                                : Islam
Suku/Bangsa                        : Sasak
Alamat                                : Rambita,Lombok Tengah
Diagnosa Medis                    : Nefrotik Syndrom

b.   Penanggung jawab
Nama Ayah                         : Tn.”B”
Nama Ibu                            : Ny.”M”Ny “J”
Pendidikan ayah                   : SD
Pendidikan Ibu                    : SMP
Pekerjaan ayah                    : Swasta ruh
Pekerjaan Ibu                      : IRT
Agama                                : Islamslam
Suku Bangsa                        : SasakSasak-Indonesia
Alamat                                : Rambita,Lombok Tengah
Sumber Informasi                : Orang Tua (Bapak Pasien)

c.    Riwayat Penyakit Sekarang
1)   Keluhan Utama
Bengkak di bagian wajah sejak ± 3 bulan yang lalu
2)   Keluhan Saat dikaji
Orang tua pasien mengatakan anaknya mengeluh sering mual-mual dan kurang nafsu makan sejak 3 bulan yang lalu, makan 1-2x sehari, BAB 1x/hari dan BB : 39 kg.


d.   Riwayat Penyakit Terdahulu

Tn.“B” mengatakan An.”E” sejak usianya 10 tahun sudah timbul pembengkakan pada wajahnya tetapi tidak terlalu parah. Pada usia 11 tahun membekakan pada An.”E” semakin membesar disertai dengan batuk dan mual-mual sehingga pihak keluarga memeriksakan An.”E” di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya. Setelah diperiksa di RSUD Praya didiagnosa menderita penyakit Sindrom Nefrotik. Kemudian An.”E” di rujuk ke Rumah Sakit Umum Propinsi (RSUP) NTB dan menjalani rawat jalan di Poli Anak RSUP NTB. Pasien datang di Poli Anak RSUP NTB dengan keluhan bekak pada wajah + 3 bulan yang lalu disertai mual-mual. Pada saat dikaji, Tn.”B” mengatakan bahwa An.”E” mengeluh bengkak pada wajah disertai mual-mual, BAB 1x/hari, BAK 1-3x/hari dan pasien masih menjalani rawat jalan di Poli Anak RSUP NTB selama + 3 tahun.

e.   Riwayat Kesehatan Keluarga

Tn.”B” mengatakan tidak ada anggota keluarga atau dari keluarga yang menderita penyakit seperti yang dialami oleh klien saat ini dan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan seperti asma, diabetes, dan hipertensi. 


Klik Disini Untuk Download Filenya :  KLIK DISINI




Saturday, 21 December 2013

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK A DENGAN DIAGNOSA MEDIS KEJANG DEMAM + FARINGITIS DI RUANG ANAK RSUP NTB

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK A DENGAN DIAGNOSA MEDIS KEJANG DEMAM + FARINGITIS DI RUANG ANAK RSUP NTB


Ns. Yuflihul Khair.,S.Kep

BAB 3
TINJAUAN KASUS

Pada bab 3 ini melaksanakan asuhan keperawatan pada anak A dengan diagnosa medis kejang demam + faringitis di ruang anak RSUP NTB Surabaya.
3.1         Pengkajian
Pengkajian dilakukan oleh Yuflihul Khair pada tanggal 8 September 2001 jam 11.00 WIB.
3.1.1    Data Subyektif
          Biodata/Identifitas
Nama anak               :  An “A”
Umur                       :  15 bulan
Jenis kelamin            :  Perempuan
Nomor Register         :  10082571
Lahir                        :  Normal (Spontan B)
Tempat/tanggal lahir :  Surabaya, 23 Mei 2000
Diagnosa Medis         :  Kejang Demam + Faringitis
Tanggal MRS            :  8 September 2001 jam 03.30 WIB

Nama Ibu              : Ny. “H”
Umur                    : 29 tahun
Agama                  : Katolik
Suku/Bangsa          : Jawa/Indonesia
Pendidikan            : SMA
Pekerjaan              : -
Penghasilan           : -
Alamat                  : Pucang Jajar 42 Surabaya

Nama Ayah           : Tn. “B”
Umur                    : 31 tahun
Agama                  : Kristen
Suku/Bangsa          : Batak/Indonesia
Pendidikan            : SMA
Pekerjaan              : Swasta
Penghasilan           : Rp 500.000/bulan
Alamat                  : Pucang Jajar 42 Surabaya

         Riwayat Penyakit Sekarang
1.  Keluhan utama : Ibu mengatakan bahwa anaknya panas sejak 7-9-2001 jam 14.30 WIB
2.     Perjalanan penyakit sekarang
Tanggal 7-9-2001 jam 14.30 WIB Anak mulai panas lalu diberi obat penurun panas (Sirup Salmol) 1 kali dan dikompres, disertai batuk dan pilek. Tetapi panas tidak turun. Muntah sebanyak 2 kali yaitu jam 23.30 WIB dan 01.30 WIB sebanyak ± 2-3 sendok makan dengan berisi makanan. Lalu kejang terjadi pada jam 02.30 WIB sebanyak 1 kali, lamanya ± 5-10 menit, tidak mengeluarkan busa dari mulut. Keadaan saat kejang adalah mata melirik ke atas, kedua tangan fleksi, dan kedua kaki kaku (ekstensi). Setelah kejang terjadi anak langsung menangis. Batuk tidak mengeluarkan dahak, suara grok-grok, konsistensi pilek agak kental, jernih, dan keluar kadang-kadang, tetapi tidak sesak.

          Penyakit Riwayat Dahulu
Sebelumnya anak tidak pernah menderita/mengalami kejang, epilepsi, trauma kepala, radang selaput otak, ostitis media akut. Penyakit yang pernah diderita anak yaitu panas, batuk, pilek tetapi jarang terjadi.

          Riwayat Kehamilan dan Persalinan 
       1. Prenatal  : selama hamil sehat tidak ada kelainan seperti pendarahan dan sakit panas, Ibu hanya minum obat yang diberikan bidan. Ibu tidak minum jamu.
2. Natal      : melahirkan usia kehamilan 9 bulan, spontan, tidak ada kelainan, anak langsung menangis keras, BB : 3300 gr PB : 48cm.
3. Post Natal  :      bayi sehat, menetek kuat, tidak ada kelainan, tali pusat lepas hari ke 7.

          Riwayat Imunisasi
Ibu mengatakan bahwa imunisasi anaknya sudah lengkap.
Reaksi setela mendapat imunisasi DPT anak panas tetapi tidak kejang, sembuh dengan meminum obat yang diberikan petugas kesehatan.

          Riwayat Perkembangan Anak
1.       Riwayat personal sosial :
 Anak mudah beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Anak masih ngompol  dan belum bisa memberi tahu orang tua bila ingin BAK/BAB.
2.   Gerakan motorik kasar : anak sudah bisa berjalan, mendorong, dan menarik  kursi, dapat mengerjakan perintah secara sederhana.
3.       Gerakan motorik halus : anak bisa memegang pensil dan mencoret-coret.
4.  Bahasa : anak sudah bisa bicara beberapa kata, misalnya : mama, papa,  memanggil kakaknya (Iza), dan memanggil binatang peliharaan (anjing),    minum, dll.
Kesimpulan : Tidak ada kelainan dalam perkembangan.

          Riwayat Kesehatan Keluarga
Ayah   : tidak ada keluarga yang menderita penyakit epilepsi, kelainan syaraf,      penyakit menular ataupun menurun dari ayah.
Ibu   : ibu menderita hipotensi. Orang tua perempuan ibu menderita penyakit diabetes mellitus sejak tahun 1992, dari keluarga ibu tidak ada yang menderita kelainan syaraf, epilepsi.
Anak   : kakaknya menderita sakit batuk dan pilek selama satu minggu

          Riwayat Sosial
1.    Yang mengasuh ibu sendiri, di rumah tidak ada pembantu ataupun orang  lain.
2.    Hubungan dengan anggota keluarga baik: anak sangat dekat dan manja dengan ibunya. Biasanya anak bermain bersama kakak apabila ditinggal ibu memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Kakaknya berusia 9 tahun, sudah kelas 4 SD.
3.    Hubungan dengan teman sebaya : anak lebih banyak bermain di rumah bersama ibunya. Kadang-kadang anak bermain dengan teman sebayanya yang dekat dengan rumahnya.
4.    Pembawaan secara umum

Anak tampak gelisah dan rewel, kadang-kadang menangis minta digendong, anak sangat manja kepada ibunya.
Klik Disini Untuk Download Filenya : Klik Disini


Popular Posts